Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Mari Elka Pangestu adalah satu satu menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid I yang tetap dipertahankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di masa pemerintahan keduanya. Di luar kesibukan sebagai Menteri Perdagangan (mendag), ia masih membagi waktunya untuk keluarga. Bagaimana caranya?
Sama sekali tak pernah terpikirkan Mari Elka Pangestu bisa menjadi seorang menteri, bahkan untuk dua periode. Di masa kecilnya, perempuan kelahiran 23 Oktober 1956 ini justru bercita-cita ingin menjadi seorang jurnalis. Itu dilatarbelakangi oleh hobinya yang suka menulis saat masih bocah.
”Dulu saya suka menulis untuk majalah sekolah, suka bikin cerpen, lalu saya jadikan buku. Tentu saja bukan untuk
dijual, tapi saya bagikan kepada keluarga,” ujarnya menceritakan kisah masa kecilnya. Ditemui di ruang kerjanya yang asri dan lega di lantai lima Kementerian Perdagangan di Jalan Ridwan Rais No 5 Jakarta, Mari pun membeberkan obsesinya sejak kecil, hingga kemudian ia banting setir mendalami bidang ekonomi.
Meski ayahnya J. Panglaykim dikenal sebagai ekonom jempolan, namun Mari mengaku awalnya sama sekali tidak tertarik mendalami bidang ekonomi. Setelah sempat bercita-cita menjadi jurnalis, Mari juga sempat berkeinginan menjadi seorang dokter anak. Selain karena memang menyukai anak-anak, ia mengaku terobsesi oleh dokter pribadinya saat kecil. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ia pun mendaftar di Fakultas Kedokteran Australian National University.
”Saya sudah diterima di kedokteran (Fakultas, Red). Tapi setelah itu saya pikir lagi, rasanya saya tidak akan kuat menjalani pendidikan di bidang tersebut,” tuturnya. Setelah berkonsultasi dengan keluarga, Mari kemudian pindah ke Jurusan Science. Namun di jurusan tersebut, ia mengambil kelas ekonomi. ”Di sanalah saya kemudian mulai tertarik mendalami bidang ekonomi, karena pengaruh dosen yang mengajar di kelas tersebut,” ucapnya.
Karena ketertarikan itu, Mari pun memutuskan untuk mendalami bidang ekonomi, hingga akhirnya ia berhasil meraih gelar S3 atau PhD (Doctor of Philosophy) dalam bidang Perdagangan Internasional, Keuangan, dan Ekonomi Moneter dari Universitas California Davis Amerika Serikat pada 1986. Sebelum diangkat menjadi Menteri Perdagangan, Mari dikenal sebagai peneliti dan ekonom dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies). Ia pun juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Lantas bagaimana perasaannya saat pertama kali ditelepon Presiden SBY pada 2004 silam saat dipilih memimpin Kementerian Perdagangan? ”Tentu saja bangga.
Apalagi jauh sebelumnya saya sudah banyak berhubungan dengan orang-orang dan pejabat yang ada di kementerian ini,” tutur Mari. Menjadi seorang menteri, bagi Mari bukanlah sesuatu yang mudah. ”Dulu saat berada di luar pemerintahan dan menjadi pengamat, saya sering mengkritik pemerintahan. Saat dipilih menjadi menteri, ternyata berat, tidak semudah yang dibayangkan,” katanya.
Pertama kali menjadi menteri, Mari sempat mengundang para seniornya, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Saat itulah, Ir Hartarto, mantan Menteri Perindustrian era Orde Baru berkata kepada Mari. ”Kamu dulu yang paling banyak mengkritik pemerintah. Sekarang kamu rasakan sendiri, dan kamu harus bisa menghadapinya,” ujar Mari menirukan seniornya itu. Karena sudah biasa mengkritik, Mari pun hanya tersenyum. ”Bagi saya kritik itu hal biasa. Saya bukan orang yang alergi dengan kritik, asal harus disertai dengan alasan yang jelas. Dan yang terpenting, kritik itu jangan diambil sebagai hal yang personal,” imbuh ibu dari dua putera itu.
Jangan Kalah dengan Kaum Adam
Sebagai wanita asal etnis Tionghoa, Mari pun mengaku tidak kesulitan menyesuaikan diri saat pertama kali menjadi anggota kabinet. Apalagi, kata dia, sudah ada etnis Tionghoa yang menjadi menteri dalam kabinet sebelumnya di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri. ”Sekarang kan nggak kayak dulu lagi. Sejak zaman Gus Dur sudah banyak terjadi perubahan mendasar. Misalnya Imlek sudah jadi hari libur.
Pemakaian huruf China juga sudah diperbolehkan. Apalagi sejak disahkannya UU Kewarganegaraan pada 2006, semuanya berubah menjadi lebih positif,” ujar bungsu dari tiga bersaudara ini. Lalu setelah menjadi Menteri Perdagangan sekitar tujuh tahun, apa target Mari yang belum tercapai? ”Banyak ya. Salah satunya adalah reformasi birokrasi. Saya ingin menumbuhkan kader-kader dan birokrat yang akan mengambil alih kepemimpin di kementerian ini, saat saya sudah tidak menjabat lagi. Salah satunya kami sudah mencetak lebih dari 200 staf yang dikirim untuk mengikuti pendidikan S2,” katanya.
Menjelang peringatan Hari Kartini pada 21 April nanti, Mari pun menyampaikan harapannya bagi seluruh kaum hawa di Indonesia. Menurut dia, saat ini perubahan paradigma sudah terjadi di seluruh dunia, dengan banyaknya muncul tokoh wanita dalam berbagai bidang. Kaum hawa tidak kalah bersaing dengan kaum Adam. Menurut Mari yang harus diutamakan adalah pendidikan. ”Jangan sampai ada anak perempuan yang dikeluarkan dari sekolah. Kuncinya itu. Antara laki-laki dan perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” tandasnya.
Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Apa jadinya jika puluhan ibu berkumpul? Pasti ramai celotehan dan perbincangan seputar perempuan, keluarga, hingga bergosip. Tapi bagaimana jika perempuan yang menjadi menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II ditambah para Dirut BUMN dan pejabat eselon 1 di seluruh kementerian mengadakan pertemuan? Jawabannya sama saja, ramai.
Suasana seperti itulah yang tampak di kediaman Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Komplek Perumahan Menteri Widya Chandra IV No 23 Jakarta Selatan, kemarin malam (25/4). Mengundang rekan-rekannya sesama menteri perempuan, yakni Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) Linda Amalia Sari, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana, mereka menggelar semacam “arisan pejabat tinggi wanita”.
Tak hanya empat menteri perempuan, “kongkow-kongkow” di antara ibu-ibu pejabat itu juga dihadiri para Dirut BUMN dan pejabat eselon 1 di seluruh kementerian, misalnya Dirut Pertamina Karen Agustiawan, Dirut TVRI Immas Sunarya, Dirut RRI Rosarita Niken Widiastuti, serta Sekjen Kemendagri, Diah Anggraini.
Adalah Mari Elka Pangestu yang awalnya memiliki ide mengumpulkan para pejabat perempuan itu. Ide itu muncul saat Mari ingin melakukan sesuatu yang berbeda memperingati Hari Kartini. Tak dinyana, ide yang disampaikannya kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP-PA), Linda Amalia Sari, bak gayung bersambut. ”Saya antusias saat dapat pesan BBM dari Bu Mari,” kata Linda.
Mari mengatakan, pertemuan non formal itu digelar semata-mata untuk bersilaturahmi dengan seluruh perempuan yang menduduki jabatan eselon I di seluruh kementerian dan lembaga. ”Ini merupakan silaturahmi untuk memperingati Hari Kartini,” ujar Mari. Menurut Mendag, menduduki posisi penting di pemerintahan bagi seorang perempuan, bukanlah perkara sederhana.
Sebab perempuan perlu bekerja ekstra, melebihi usaha laki-laki untuk membuktikan bahwa ia berkompeten berada di pucuk kepemimpinan. ”Masing-masing punya cerita. Sebagai perempuan, kita harus menunjukkan bahwa keberhasilan bukan sekadar posisi. Kita berhasil berada di posisi tinggi karena memang kita memiliki kemampuan. Ini bisa menjadi inspirasi. Inilah pentingnya networking antara pemerintahan dan BUMN,” kata Mari di hadapannya 90 tamunya.
Sementara Meneg PP dan PA, Linda Amalia Sari mengatakan, perempuan di pemerintahan perlu berjejaring dan berbagi pengalaman. Tak sekadar mengenai pekerjaan namun juga seputar kehidupannya sebagai perempuan. ”Pertemuan informal seperti ini lebih cair. Perempuan bisa saling berbagi pengalaman dan informasi tentang apapun. Jika menyangkut pembicaraan serius mengenai pekerjaan bisa ditindaklanjuti kemudian. Namun kegiatan seperti ini bisa membuat perempuan saling menguatkan satu sama lain secara pribadi, juga membantu pekerjaannya,” jelas Linda.
Senada dengan dua rekannya, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih juga menyambut positif ajakan Mari membangun jejaring pimpinan perempuan. Baginya, kegiatan networking seperti ini layak diadakan lebih rutin. ”Setahun sekali atau dua tahun sekali kita perlu berkumpul dalam suasana berbeda, tapi rasanya tidak sebulan sekali,” katanya.
Lalu apakah di antara para ibu menteri ini pernah merasa termarjinalkan atau terkucilkan di kabinet, karena jumlah menteri wanita sangat sedikit di antara menteri laki-laki? ”Oh tidak, kami tidak pernah merasa dikucilkan. Kami juga tidak ingin memisahkan diri dengan menteri yang laki-laki. Menteri laki-laki juga ada kok yang membela hakhak wanita. Nanti kalau ada lagi acara kumpul-kumpul seperti ini, kami akan undang menteri yang laki-laki,” pungkas Linda.
Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Bagi sebagian warga ibu kota, bersepeda ke kantor (bike to work) itu sudah biasa. Tapi kalau gowes dari Jakarta menuju Jepara, Jawa Tengah, sambil bawa misi sosial, itu baru luar biasa. Hari ini, sepuluh perempuan yang menamakan dirinya Srikandi Bike2Work melakukan aksi tak lazim itu.
Jangan bayangkan sepuluh perempuan ini seorang atlet sepeda. Para Srikandi itu datang dari berbagai latar belakang. Ada yang seorang dokter bedah, sekretaris di sebuah perusahaan swasta, aktivis perempuan, dan ibu rumah tangga. Mereka adalah Tense Manalu, Lucy Iskandar, Rahma, Rahmi, Aristy, Seklie, Evie Permatasari, Rita Ilyasa, Herlina Dahlan, serta Meika Manullang. Dari kesepuluh perempuan itu, hanya Rahma yang cukup akrab dengan sepeda.
Dia seorang atlet tuna rungu. Meski bukan seorang atlet dan tidak terbiasa bersepeda jarak jauh, mereka berniat menaklukkan perjalanan sepanjang 610 kilometer menggunakan sepeda ontel. Tujuannya hanya satu, menunjukkan kepada masyarakat bahwa perempuan Indonesia adalah sosok mandiri dan bermartabat sebagai generasi penerus bangsa. Selain menempuh perjalanan yang akan melintasi 2 provinsi dan 10 kota itu, para Srikandi juga akan membagikan buku gratis. Bantuan itu disumbangkan ke SD Semai, yakni sebuah sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Jepara. Mereka juga akan mendonasikan bibit pohon buah di sekolah yang sama.
’’Pohon itu nantinya dinamai sendiri oleh para siswa di sekolah tersebut dan kami berharap mereka bisa merawat tanaman itu layaknya sahabat mereka sendiri,’’ ujar Lucy Iskandar, salah seorang Srikandi yang akan mengikuti touring Jakarta-Jepara itu saat jumpa pers di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di Jakarta, kemarin (12/4) Luci menuturkan, misi menaklukkan Jakarta–Jepara yang direncanakan dari 13 April hingga 20 April itu merupakan program yang digagas Bike2Work (B2W) Indonesia, bekerjasama dengan KPP-PA dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
’’Awalnya kami hanya ingin mengampanyekan kegiatan bersepeda untuk Indonesia lebih hijau. Namun sejalan dengan perkembangan, kami berharap agar misi ini menjadi lebih berarti, sekaligus menularkan semangat baru bagi perempuan generasi penerus bangsa,’’ tandasnya.
Dikatakan Lucy, saat ini jumlah perempuan pengguna sepeda dalam aktivitas kesehariannya masih sangat sedikit. Karena itu, dia berharap dengan touring menempuh rute Jakarta–Jepara, jumlah perempuan bersepeda semakin banyak. ’’Selain misi lingkungan hidup, ada misi gender juga yang kami usung. Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan itu sosok mandiri,’’ katanya.
Diceritakan Lucy, rekan-rekannya telah melakukan persiapan hampir 2 bulan untuk perjalanan sekitar delapan hari itu. Mereka dibawah bimbingan pelatih Glen Salmon. Bermacam pengalaman telah mereka alami selama masa latihan. ’’Kalau namanya jatuh dari sepeda sudah sering banget. Bahkan di antara kami yang hampir setiap kali latihan, setiap itu pula terjatuh. Tubuh kami memar-memar seperti orang habis terkena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tapi kami tidak pernah kapok dan selalu bersemangat untuk menaklukkan misi ini,’’ ujarnya.
Sementara itu, Glen Salmon, pelatih para Srikandi bersepeda itu mengatakan, perjalanan dari Jakarta menuju Jepara itu akan dibagi 6 etape. Di hari pertama para peserta akan menempuh rute Jakarta-Purwakarta. Di hari kedua dilanjutkan Purwakarta- Subang-Sumedang. Di hari ketiga, mereka melanjutkan dari Sumedang menuju Cirebon. Hari keempat istirahat di Cirebon satu hari. Hari kelima dilanjutkan dari Cirebon menuju Pekalongan. Hari ketujuh dari Pekalongan menuju Semarang. Hari terakhir dari Semarang menuju Jepara.
’’Beberapa latihan telah dilakukan selama persiapan, yakni latihan menjaga stamina, daya tahan, serta latihan teknik. Kami juga sudah berlatih menempuh beberapa rute jarak jauh, misalnya bersepeda menuju Bogor, kemudian bersepeda ke Anyer, Karawang, dan terakhir kami berlatih bersepeda menuju Bandung,’’ ujar Glen.
Di tempat sama, Ketua Umum B2W Indonesia, Toto Sugito, mengatakan, kegiatan yang baru pertama kalinya digelar ini diharapkan bisa rutin dilaksanakan setiap tahun untuk memeringati Hari Kartini.
’’Kalau tahun ini ada 10 peserta, semoga tahun depan bisa meningkat menjadi 20 peserta, dan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya,’’ kata Toto. Saat ini, kata Toto, jumlah anggota yang terdaftar dalam komunitas B2W Indonesia mencapai 40 ribu orang. Padahal 2004 silam, anggotanya hanya 150 orang. ’’Di Jakarta sendiri anggota kami sudah 6.000 orang. Itu yang tercatat,’’ ujarnya.
Sementara itu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari mendukung penuh kegiatan ini. ’’Peranan perempuan dalam menciptakan generasi penerus bangsa sangatlah krusial. Sangat penting bagi bangsa ini untuk memiliki perempuanperempuan mandiri, tangguh, dengan tetap memegang nilai-nilai tradisional. Misi yang dibawa tim Srikandi dari Jakarta menuju Jepara ini sangatlah positif, mencitrakan model perempuan modern yang selain sehat, juga peduli pada masa depan lingkungan dan generasi penerus,’’ tegas mantan Ketua Umum Kowani ini.
Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Sama sekali tak pernah terbersit di pikiran Wiharto kecil bisa menjabat sebagai deputi di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB). Bahkan, untuk sebuah cita-cita pun, la mengaku tak memiliki sama sekali. Semua yang ada di hidupnya mengalir begitu saja seperti air.
Lahir dari keluarga berlatar belakang petani, Wiharto menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di Klaten, Jawa Tengah. Hingga menamatkan pendidikan tingkat menengah, tak ada yang istimewa dalam diri Wiharto. la tumbuh layaknya pemuda kebanyakan. Saat itu ia bahkan belum tahu mau menjadi apa saat dewasa. “Karena tidak ada keluarga yang mengarahkan, semuanya mengalir begitu saja,” kata Wiharto saat ditemui di kantornya.
Karena itulah, setamat SD Wiharto justru melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dan berlanjut ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), bukan ke sekolah umum seperti siswa kebanyakan. “Karena memang sekolah yang ada dekat rumah saya SMEP dan SMEA. Itu pun sekolah yang baru berdiri, bukan sekolah favorit,” kata pria kelahiran 9 Juli 1954 itu.
Di masa kecilnya, Wiharto lebih sering menghabiskan waktunya di sawah membantu orang tua yang memang berlatar belakang petani. Sekadar mencangkul merupakan hal biasa baginya. Bahkan, teknik menanam padi, kacang, atau kedelai, ia kuasai dengan baik. Kebiasaan bertani itulah yang kemudian disalurkannya menjadi hobi bercocok tanam hingga sekarang. “Saya suka menanam bunga. Di waktu luang akhir pekan, saya lebih suka merawat tanaman di rumah. Ada banyak bunga, terutama anggrek dan adenium.” ujar ayah dua anak ini.
Kendati tumbuh dalam keluarga sederhana, Wiharto mengaku selalu menyimpan keinginan untuk menjadi lebih baik di masa depannya. Karena itulah, dalam belajar ia sungguh-sungguh, dan terus melakukan segala sesuatunya sebaik mungkin.
Setamat SMEA, Wiharto pun belum tahu ingin melanjutkan ke mana. “Lalu ada keluarga yang menyuruh mendaftar ke Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta. Mungkin karena keinginan untuk berhasil itu selalu ada, jadi masuk UGM pun nggak sulit,” kata dia. Setamat SMEA. Wiharto pun memilih Jurusan Akuntansi, bukan jurusan pertanian sesuai latar belakang keluarganya. “Saat itu, saya juga belum tahu nantinya mau jadi apa. Profesi akuntan itu saya baru tahu juga setelah kuliah.” imbuhnya.
Selama beberapa tahun menimpa ilmu di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UGM, ia berhasil meraih gelar sarjana pada 1981.
Wiharto lalu mendaftar di Departemen Keuangan-sekarang Kementerian Keuangan (Kemenkeu)-dan lulus. “Pada 1981, saya diangkat jadi PNS di Departemen Keuangan (Kemenkeu, Red), tepatnya di Ditjen Pengawasan Keuangan Negara.” kisah Wiharto.
Sekitar dua tahun di Kemenkeu, Wiharto pindah ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada 1983. Saat itu, BPKP baru dibentuk. Karena kesungguhannya dalam bekerja, Wiharto pun sempat menerima beasiswa melanjutkan pendidikan S2 di St Louis University Amerika Serikat, dari 1988 hingga 1990.
Selama lebih kurang 18 tahun, Wiharto merintis karir di BPKP hingga 2001 silam. Kemudian ia dipindahtugaskan ke Kemenpan dan RB. Di kementerian baru tersebut, karirnya dimulai dengan jabatan eselon 2 sebagai asisten deputi Bidang Tindak Lanjut dan Hasil Pemeriksaan hingga 2008. Kemudian pada 2009, ia diangkat menjadi asisten deputi Pemberantasan Korupsi hingga 2010.
Wiharto juga sempat menduduki jabatan staf ahli, sebelum akhirnya awal 2011 ia dilantik sebagai pejabat eselon 1 dengan posisi sebagai deputi Bidang Pelayanan Publik. “Sampai sekarang pun status kepegawaian saya masih di BPKP,” ucapnya.
Pelayanan Buruk
Tugasnya sebagai deputi Pelayanan Publik, Wiharto mengaku masih banyak persoalan layanan publik di Indonesia yang mesti dibenahi. Sebagai warga biasa, ia pun mengaku sering mendapati layanan publik yang buruk dan mengecewakan, termasuk layanan SIM atau KTP di tingkat kelurahan.
“Saya pernah ikut ujian untuk bikin SIM, dan nggak lulus. Diketawain sama polisinya, MBA tidak lulus. Coba lagi nggak lulus lagi. Sampai akhirnya saya nyerah sama polisinya karena nggak bisa lulus,” kata Wiharto.
Padahal waktu kuliah di Amerika, dia dua kali membuat SIM di California dan Missiouri. “Ujiannya pakai bahasa Inggris saya bisa lulus. Di sini ujian Bahasa Indonesia malah nggak lulus,” ujarnya tertawa.
Masalah seperti ini, kata Wiharto. merupakan salah satu contoh bentuk layanan publik yang harus dibenahi. “Belum lagi masalah waktu. Orang kalau bikin SIM baru itu memakan waktu lama, bisa seharian. Kalau kita kerja, waktu itu kan sangat berharga. Kita nggak mungkin ngurus KTP atau SIM berhari-hari sambil nungguin. Dan buat orang sibuk, mereka lebih memilih jalan pintas,” imbuhnya.
Karena itulah, Wiharto menyarankan perlunya dibuat perbaikan dan mencari jalan keluar untuk mengatasi semua masalah layanan publik tersebut “Sekarang mungkin sudah ada beberapa terobosan misalnya ada SIM keliling. Atau untuk orang yang bayar pajak kendaraan di Samsat, sudah ada Samsat di mall atau Samsat online. Itu bagus, dan harus dicari lagi terobosan-terobosan lain.” katanya.
Memperbaiki kualitas layanan publik, sambung Wiharto, tidak hanya bisa dilakukan oleh jajaran pemerintahan, tapi juga dengan bantuan masyarakat. Mental masyarakat juga harus diperbaiki. “Birokrat itu kan cerminan dari masyarakat. Kalau masyarakatnya rusak, birokratya juga rusak. Masyarakatnya bersih, birokrat juga nggak bisa main-main. Termasuk juga pengusaha. Birokrat nggak mungkin menerima suap kalau pengusaha nggak ngasih suap,” ujarnya. “Jadi memperbaikinya harus dari dua sisi. Semua lapisan, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, harus sama-sama memperbaiki,” pungkasnya.
Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Di antara ratusan anggota dewan yang mengisi kursi di Senayan, kiprahnya memang belum terdengar secara nasional. Maklum, dari segi jam terbang, politisi termuda ini masih kalah jauh dibanding politisi senior lainnya.
Namun, lajang berusia 25 tahun ini berhasil meraih suara terbanyak untuk pemilu legislatif 2009, khusus di luar pulau Jawa. PERCHA Leanpuri, begitulah gadis manis peraih gelar MBA di University of Balarat Malaysia itu memperkenalkan diri saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung A DPD RI Senayan Jakarta.
’’Percha Leanpuri itu adalah akronim. Percha singkatan dari percampuran. Sedangkan Leanpuri singkatan dari Lematang Ogan Way Umpu Komering. Itu adalah nama empat sungai di Sumatera Selatan, masing-masing sungai tersebut adalah daerah asal kakek nenek dari kedua orang tua saya,’’ ujar Percha.
’’Tapi kalau di rumah saya biasa dipanggil Titi,’’ imbuh perempuan kelahiran Belitang, 24 Juni 1986, ini. Bagi orang yang baru pertama kali bertemu Titi, atau berpapasan dengannya di gedung wakil rakyat di Senayan sana, mungkin tak ada yang menyangka ia adalah politisi termuda di kompleks Parlemen. Maklumlah, dia baru berusia seperempat abad pada 24 Juni mendatang.
Kendati masih belia, dunia politik bukanlah sesuatu yang baru bagi Titi. Sejak kecil, dia telah dididik untuk melek politik, karena hampir semua keluarganya berlatar belakang politisi. ’’Kakek saya dari bapak dulunya adalah pesirah (raja) di sebuah daerah di Sumatera Selatan, tepatnya di Belitang OKU Timur, hingga berpuluh tahun. Sedangkan kakek saya dari pihak ibu dulunya Walikota Palembang selama dua periode,’’ ujar Titi.
’’Ayah saya pun hingga saat ini juga masih menjabat sebagai bupati. Jadi memang kayaknya darah politik sudah mengalir di tubuh saya sejak lahir,’’ imbuh puteri tertua dari Bupati OKU Timur, Herman Deru, tersebut.
Bagi Titi, situasi di keluarganya itulah yang membuatnya tertarik terjun di dunia politik. Karena itu, usai tamat kuliah S1 di Malaysia, dan nyambung S2 juga di Malaysia, pada 2009 lalu, dia ikutmencalonkan diri jadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI ”Alhamdulillah saya berhasil meraih suara tertinggi dari segi persentaseuntuk di luar Jawa, hampir satu juta suara,’’ katanya.
Lalu bagaimana perasaan Titi saat pertama kali menginjakkan kaki di Senayan usai terpilih sebagai wakil rakyat? ’’Pertama kali masuk Senayan tentunya nervous, karena pengalaman pertama. Dulu biasanya kalau lewat Senayan ya lewatlewat aja, nggak pernah masuk. Sekali masuk, wow ternyata bagus banget. Orangnya juga ramah-ramah,’’ tuturnya. Karena paling muda, Titi berusaha menyesuaikan diri dengan sejumlah rekannya di Senayan.
’’Alhamdulillah hubungan emosional saya dengan seluruh anggota DPD sangat baik, karena saya selalu menghormati mereka sebagai orang lebih tua. Saya juga mencuri-curi ilmu dari mereka yang lebih berpengalaman, agar ilmunya itu turun kepada orang lebih muda dan pendatang baru seperti saya ini,’’ kata Titi. Pertama kali memutuskan terjun di dunia politik, Titi melakukannya dengan serius, tanpa ada niat coba-coba, meski saat itu usianya masih sangat muda.
’’Jabatan ini kan tanggung jawab besar, kita tidak boleh coba-coba. Kalau kita hanya coba-coba, usaha apapun yang dilakukan pasti hasilnya tidak maksimal,’’ ujar Titi. Titi sangat bersyukur mendapat amanah besar pada Pemilu 2009 lalu, mendapat hingga 950 ribu suara.
Di Sumatera Selatan itu suara tertinggi, karena ranking duanya hanya sekitar 200 ribu. ’’Bahkan untuk legislator di luar pulau Jawa, itu juga suara tertinggi,’’ ungkap dia. Sebagai anggota DPD, Titi berusaha untuk terus memperjuangkan segala aspirasi masyarakat dan konstituen di daerah asalnya. Karena itulah meski sudah terpilih menjadi senator di Senayan, sulung dari empat bersaudara yang semuanya perempuan itu mengaku masih sering pulang ke kampung halamannya saat tidak ada pekerjaan di Jakarta.
’’Namanya juga keterwakilan daerah, jadi pasti harus bolak balik terus ke daerah. Alhamdulillah saya juga sering mendapat undangan dari masyarakat di daerah. Itu kan artinya mereka mengharapkan kehadiran kita. Biasanya paling lama saya di Jakarta hanya 7 hari. Setelah itu pasti pulang ke Sumatera Selatan,’’ tutur Titi. Meski sudah berstatus wakil rakyat, hingga saat ini Titi masih tinggal dengan kedua orang tuanya di Belitang Kabupaten OKU Timur Sumatera Selatan.
’’Kan saya belum ada yang punya. Makanya masih tinggal sama orang tua,’’ tutur gadis yang memang mengaku sangat hobi berkumpul dengan keluarga di waktu senggangnya itu. Ada pun saat di Jakarta, Titi tinggal dengan seorang tantenya di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Kehidupan Pribadi Bicara kehidupan pribadinya di luar seorang politisi, Titi sangat akrab dengan dunia seni, terutama seni tari.
’’Saya ini background-nya penari tradisional. Saat masih kecil aktif di sanggar tari, karena sejak SD sudah dikenalin orang tua dengan tarian. Sekarang kalau pulang ke daerah, saya masih sering mampir ke sanggar, melihat adik-adik latihan,’’ katanya. Di luar itu, Titi mengaku mengisi waktu senggangnya berkumpul dengan keluarga. ’’Saya selalu pengen dekat dengan keluarga. Yang pertama saya cari itu pastilah mama, papa, dan adik-adik,’’ tutur perempuan yang juga hobi olahraga tennis itu. Titi juga tak melupakan teman-teman sebayanya, kendati sudah jarang berkumpul karena keterbatasan waktu.
’’Kadangkadang dengan teman-teman seumuran dan teman-teman sekolah dulu saya masih suka sharing, biar saya juga nggak ketinggalan info terbaru, misalnya info musik. Kadang-kadang kalau sudah fokus kerja, misalnya saat reses hingga 1 bulan, sudah nggak kepikiran lagi yang namanya jalanjalan. Kadang pengen juga ngumpul dengan teman-teman, makan-makan sama mereka, tapi nantilah,’’ imbuhnya.
Bicara tentang kehidupan pribadi, dengan kesibukannya sebagai senator, Titi tetap tidak melupakan kehidupan pribadinya. Dia ingin melepas masa lajang sebelum umur 27 tahun. ’’Keinginan untuk melepas masa lajang tentu ada, tapi jodoh kan di tangan Tuhan. Saya percaya itu. Saya nggak bisa masang target kapan mau menikah. Tapi kalau keinginan jangan sampai lewat umur 27 deh,’’ katanya. Apakah saat ini sudah punya pacar yang akan dijadikan calon pendamping? ’’Hahahaha…kalau seumuran saya ini pasti adalah yang namanya teman dekat. Ya, saya memang sudah berhubungan dengan seseorang. Doa kan sajalah, karena sekali lagi yang namanya jodoh itu kan di tangan Tuhan,’’ pungkas Wakil Ketua Umum Generasi Muda Sriwijaya ini.
Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Dengan latar belakang gelar sarjana Teknik Elektro yang disandangnya, Johanes Danang Widoyoko justru memilih terjun di dunia LSM (lembaga swadaya masyarakat). Dan meski aktivitasnya selama 11 tahun di Indonesia Corruption Watch (ICW) disadarinya tidak memberikan jaminan materi berlimpah, ia tetap setia memilih hidup di jalurnya yang sekarang.
Ditemui di kantor ICW di bilangan Kalibata Jakarta Selatan, pertengahan pekan lalu, Danang Widoyoko baru selesai memimpin diskusi di kantor tersebut. “Ntar ya, saya mau makan dulu. Kamu sudah makan?” tanyanya dengan nada akrab, meski saat itu merupakan perjumpaan pertama kami. “Kalau nggak makan sekarang takutnya nanti nggak keburu. Habis ini ada acara lagi di daerah Sudirman,” ujarnya menjelaskan aktivitasnya seharian itu.
Sebagai penggiat LSM, hari-hari Danang memang disibukkan dengan berbagai diskusi, penelitian, dan menulis. Ia pun menceritakan awal keterlibatannya di ICW. Saal itu, pada 2000, tatkala Danang ikut membantu penelitian yang dilakukan ICW. “Kebetulan ada rekruitmen baru di ICW, lalu saya membantu penelitian tentang mafia peradilan, dan berlanjut sampai sekarang.” tuturnya menceritakan awal mula ia bergabung di ICW.
Ketertarikan Danang pada dunia LSM berawal ketika ia masih kuliah. Meski saat itu statusnya mahasiswa jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga, Jawa Tengah, dia seharusnya lebih banyak berkutat di lab komputer. Namun dalam kesehariannya. Danang justru sibuk menjadi aktivis pers kampus. Layaknya aktivis mahasiswa, ia pun getol mengkritisi segala macam kebijakan kampus yang dinilainya tidak benar.
Hingga pada 1994, terjadi kisruh pemilihan rektor di tempatnya menuntut ilmu. Akibatnya, salah seorang dosen, yakni Arief Budiman, yang juga dikenal sebagai aktivis mahasiswa 66 dipecat dari kampus tersebut. Sebagai bentuk protes, Danang pun menggalang rekan-rekannya melakukan aksi mogok kuliah.
“Setahun kami nggak ada aktivitas apa-apa. Tiap malam kerjanya cuma diskusi, dengerin ceramahnya Arief Budiman dan George Aditjondro,” luturnya menceritakan pengalaman masa kuliah.
“Melihal ceramah mereka berdua, mulai timbul ketertarikan saya. Menarik sekali ternyata masalah sosial ini. Padahal saat itu saya lagi senang-senangnya ngoprek komputer. Tapi melihat Arief Budiman yang orangnya sangat sederhana, namun berani. Lalu George Aditjondro itu yang ngomongnya provokatif banget Merekalah yang memberikan inspirasi kepada saya, bagaimana kita harus berjuang dengan konsisten,” tuturnya.
Usai tamat kuliah, Danang pun lebih memilih terjun di dunia LSM, dan bergabung di ICW. Sebelumnya ia juga sempat bekerja di sebuah LSM di Salatiga. Ilmu yang ditimbanya di Fakultas Teknik pun jadi jarang terpakai. “Dulu sih saya sempat nyari duitnya dengan memperbaiki komputer, instalasi komputer, pasang jaringan, dan macam-macam lah. Tapi sekarang malah agak lupa, karena sudah banyak teknologi baru,” katanya.
Selama 11 tahun mengabdi di ICW, banyak suka duka yang dirasakannya. Aktivitasnya di lembaga tersebut menyebabkan Danang banyak disuka, tapi juga banyak dibenci. Ancaman atau teror bukanlah barang baru bagi Danang dan rekan-rekannya.
“Didemo tiap hari, dilaporin polisi, itu sudah biasa. Resiko itu dihadapi semua teman-teman ICW. Namun kami bekerja di sini lebih banyak didorong semangat memperbaiki keadaan, semangat membuat perubahan. Kami ingin melihat lndonesia yang lebih baik, tidak ada korupsi, tak ada penyelewengan uang negara. Itu yang membuat kami semua bertahan. Dan semua ancaman itu justru menguatkan, bahwa apa yang kami dilakukan sudah benar,” katanya.
Tak hanya ancaman, Danang bahkan pernah dipukul Jacob Nuwawea, Menteri Tenaga Kerja di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri. Waktu itu, tahun 2003, ada dialog live di salah satu televisi swasta. Kasus yang dibahas mengenai asuransi TKI. “Saya persoalkan mengenai asuransi TKI yang banyak aturan, dia malah marah-marah. Karena nggak bisa debat, di tengah-tengah talk show dia ngeplak kepala saya, lalu pergi,” tutur Danang sembari tertawa mengenang peristiwa tersebut.
Secara sederhana, lanjut Danang, ia sadar semua ancaman itu adalah tantangan. “Kalau mau dibunuh atau dipukul nggak bisa lari juga. Tapi minimal kami bisa mengantisipasinya, bisa belajar mempersulit upaya itu. Ada banyak masyarakat yang mendukung perjuangan kami, banyak yang memberikan support” katanya.
Selain masyarakat, dukungan keluarga juga dirasakan Danang sebagai kekuatannya untuk terus berjuang di ICW. “Keluarga mendukung, walaupun kadang-kadang ibu saya juga sering khawatir. Seminggu sekali beliau pasti nelepon. Maklumlah, namanya juga orang tua. Tapi sejauh ini keluarga mendukung, mereka itu kekuatan saya. Karena dukungan keluarga, saya makin semangat kerjanya,” tutur anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.
Selama 11 tahun di ICW, diakui Danang telah memberikannya banyak pengalaman. Salah satunya pelajaran mengelola organisasi. “ICW bertahan sampai sekarang, itu suatu kebanggaan saya. Dulu ketika Teten Masduki jadi koordinator, saya juga yang mengelola manajemennya. Organisasi ini bagi saya adalah tempat belajar. Karyawan di sini para pembelajamya. Jadi mereka bekerja di ICW tidak sekadar mencari uang. Uang hanya hanyalah sekadar gaji, agar bisa terus hidup dan terus belajar. Intinya bagaimana mereka terus belajar.” jelasnya.
“Semua orang yang datang ke ICW harus belajar. Belajar itu tidak ada akhirnya. Bahkan, mereka pergi dari ICW juga terus belajar. Itu yang saya kira menarik dan membuat orang betah di sini. Bukan karena gajinya. Kalau gaji pasti kalah bersainglah dengan orang lain,” imbuhnya sembari tertawa.
ICW sendiri, kata Danang, juga telah memberikannya persepsi baru tentang dunia LSM. Selama ini kebanyakan aktivis LSM, kata dia, hanya bermodal keberanian. “Namun kami di ICW modalnya data. Saya ini dasarnya penakut, kalau diancam dipukul, ya lari saya. Tapi saya punya data. Kalau memang ada kebenaian, akan saya perjuangkan itu. Bukan lagi soal takut atau nggak takut, lapi masalah keadilan. Kalau saya diam, lain kali saya yang akan jadi korban. Jadi bagaimana kita melihat suatu ketidakadilan, bagaimana kita menyikapinya, dan korupsi adalah salah satu bentuk ketidakadilan,” katanya.
Lalu apa yang dirasakan Danang selama ini dalam perjuangannya melawan korupsi? Ternyata tidak mudah berjuang melawan korupsi, karena korupsi di Indonesia sekarang ini bukan lagi sekadar perilaku yang sifatnya personal, tapi sudah institusional, sudah dilembagakan,” ucapnya. “Dalam korupsi itu banyak yang diuntungkan. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi semua orang yang masuk dalam sistem tersebut. Yang kita lawan bukan lagi orang perorangan, tapi melawan sebuah struktur, sebuah sistem yang dibangun dari alokasi dan distribusi korupsi tersebut,” katanya.
Karena itu. kata Danang, pendekatan penegakan hukum dalam melawan korupsi tidaklah cukup. “Memberantas korupsi memang perlu hukum, perlu KPK, tapi itu tidak cukup Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat melakukan perlawanan terhadap mereka yang melakukan korups itu. Berani melawan, berani menolak menjadi korban korupsi, itu yang paling penting. Kalau masyarakat berani menolak, maka akan terus muncul perlawanan terhadap praktek korupsi.
Kami khawatirya masyarakat justru tidak berani melawan atau menolak, dan tinggal ICW sendirian, maka itu adalah gagalan kami. Semoga saja nggak seperti itu,” pungkasnya.
Posted by: Dodi Esvandi on: July 26, 2010
Genderang perang sudah ditabuh, gong tanda dimulainya pertandingan juga sudah dipukul. Empat pasangan calon walikota dan wakil walikota Depok akhirnya resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok, sebagai peserta Pilkada 2010 yang akan dihelat 16 Oktober mendatang.
Sabtu (24/7) kemarin, adalah ibarat garis start bagi pasangan Yuyun Wirasaputra-Pradi Supriatna (Yuyun-Pradi), Gagah Sunu Sumantri-Derry-Drajat), Badrul Kamal-Agus Supriyanto (Badrul-Agus), serta Nur Mahmudi Ismail-Idril Abdul Somad (Nur-Idris). Read the rest of this entry »
Posted by: Dodi Esvandi on: July 20, 2010
Sebagian besar masyarakat zaman dulu alias jadul, boleh jadi cukup akrab dengan kesenian lenong. Pertunjukan seni budaya tradisional itu juga eksis di seputar Kecamatan Pancoran Mas, Depok.
Salah satunya grup lenong Sinar Fajar Pancoran Mas, pimpinan Zaini. Sayangnya grup itu bubar sudah. Para pemainnya pun bertebaran entah ke mana, meski sebagian kerap masih bisa ditemui di beberapa gelintir grup lenong lain yang coba bertahan. Read the rest of this entry »
Posted by: Dodi Esvandi on: July 8, 2010
Kemenangan 1-0 tim matador Spanyol atas tim panser German, akhirnya menambah terciptanya sejumlah sejarah baru di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Read the rest of this entry »
Posted by: Dodi Esvandi on: July 7, 2010
Siapa yang tak kenal Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Bahkan konon ketenaran mereka sudah melewati lintas negara. Saat ini, Nazriel Irham dan dan teman-temannya tidak hanya dikenal di bumi Nusantara, namun sudah sampai ke mancanegara, termasuk ke negeri Om Sam sana. Read the rest of this entry »