Codoix’s Weblog

Menulislah untuk belajar membaca

Lenong Panmas di ambang kenangan…Merk boleh Jakarta, pabrik tetap Depok

Posted by codoix on May 22, 2009

Sebagian besar masyarakat zaman dulu alias jadul, boleh jadi cukup akrab dengan kesenian lenong. Pertunjukan seni budaya tradisional itu juga eksis di seputar Kecamatan Pancoran Mas, Depok.

Salah satunya grup lenong Sinar Fajar Pancoran Mas, pimpinan Zaini. Sayangnya grup itu bubar sudah. Para pemainnya pun bertebaran entah ke mana, meski sebagian kerap masih bisa ditemui di beberapa gelintir grup lenong lain yang coba bertahan.

“Kalau kita bicara lenong, semua orang mengatakan itu budaya Betawi. Padahal kebanyakan grup lenong serta pemainnya berasal dan bermukim di Depok,” ujar Zaini kepada Monde beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, saat Depok masih menjadi bagian dari Kabupaten Bogor, perhatian terhadap kesenian lenong sangatlah kurang. Akibatnya banyak seniman lenong yang cari makan ke Jakarta. “Mungkin karena itu lenong lebih dikenal sebagai kesenian Jakarta.”

Ibaratnya, seperti Depok membikinnya, Jakarta menjualnya dengan merk mereka.

Kini, lanjut Zaini, setelah Depok menjadi pemerintahan kota sendiri seharusnya bisa mengangkat kesenian lenong sebagai salah satu simbol budaya Kota Depok. “Biar semua orang juga tahu bahwa lenong itu sebenarnya adalah lenong Depok, bukan lenong Jakarta.”

Sebagai mantan pimpinan grup lenong, Zaini memiliki pengalaman segudang. Dia pernah menjadi juara pertama pemeran pria dalam rangka festival kesenian rakyat se-Jabodetabek di Taman Mini pada 1978. “Namun saat itu saya membawa bendera Jakarta.”

Sekitar tahun 70-an, grup lenong Sinar Fajar mencapai puncak popularitasnya. “Setiap tanggal 17 Agustus sampai akhir bulan, kami selalu kelabakan saking banyaknya tawaran manggung,” kata Zaini.

Namun mulai era 1980-an popularitas itu mulai meredup, karena terkikis budaya yang datang belakangan seperti layar tancap dan organ tunggal.

“Sebenarnya animo masyarakat masih cukup tinggi, namun terkendala tempat, karena lenong itu butuh panggung untuk tampil. Kalaupun orang mau ngundang lenong, mereka nggak punya tempat buat nampilinnya,” ujar Zaini.

Akhirnya satu per satu personil lenongnya hengkang. “Dulu salah satu personil lenong Sinar Fajar adalah Malih Tong-tong. Bahkan saya nikahkan dia dengan keponakan saya. Sekarang dia udah punya grup lenong sendiri yang ada di Ratu Jaya,” tutur Zaini.

Kesenian China

Menurut Zaini, lenong sebenarnya dari kesenian China. “Selain gambang dan kromong, alat musik pengiring lenong itu semuanya berasal dari China seperti teh yan, kong an yan, serta shu kong.”

Selain beberapa alat musik tersebut, lanjut Zaini, masih ada beberapa alat musik lain yang digunakan seperti kecrek, ning-nong, serta kendang.

Ada dua jenis lenong, yaitu Lenong Denes dan Lenong Preman. Dalam lenong denes atau dinas, pemainnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-setting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan.

“Sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan pemain tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari,” tutur Zaini.

Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan. “Lenong Denes umumnya menggunakan bahasa yang halus yaitu bahasa Indonesia yang benar. Sedangkan lenong preman bahasanya lebih urakan.”

Cerita yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.

Zaini menamabahkan awalnya kesenian lenong dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di ruang terbuka tanpa panggung. “Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela.”

Dalam perkembangannya lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. “Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.”

Kini Zaini menyayangkan kurangnya perhatian dan kepedulian Pemkot Depok atas kesenian tradisional lenong. “Mereka menganggap kesenian ini sebagai kesenian kere. Ketika ada maunya baru diperhatikan,” keluhnya.

Menurutnya banyak pelaku kesenian tradisonal yang cemburu atas sikap pemda. Kalau untuk mengundang grup band atau dangdut, mereka rela mengeluarkan duit jutaan rupiah. “Tapi untuk kesenian tradisional seperti lenong paling cuma dikasih uang transport atau uang rokok,” ujarnya.

Zaini pun berharap pemkot menghargai nilai-nilai budaya tradisional. “Kenapa sih tidak dibuatkan gedung kesenian utuk mengembangkan kreatifitas para seniman itu, sehingga mereka juga punya tempat untuk menampilkan sesuatu,” tuturnya menutup obrolan. (Dodi Esvandi)

Posted in Budaya | Leave a Comment »

Nepotisme itu masih ada…

Posted by codoix on April 21, 2009

Pemilu legislatif 2009 baru saja usai. Partai pemenang pemilu maupun calon anggota legislatif yang akan menjadi wakil rakyat untuk lima tahun ke depan memang belum diumumkan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun semua partai politik sudah disibukkan dengan bursa calon presiden dan wakil presiden.

Partai Demokrat, yang diperkirakan mememangkan pemilu terlihat begitu yakin mengusung Ketua Dewan Pembina mereka, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon presiden untuk lima tahun ke depan.

Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tetap dengan pendirian awal, yakni mengusung Megawati Soekarno Putri untuk menantang SBY dalam pilpres mendatang.

Kendati beberapa hari lalu sempat santer terdengar PDIP akan mengusung Puan Maharani (putri sulung Megawati) menjadi calon wakil presiden diduetkan dengan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra, namun peluang terjadinya duet ini tidak cukup besar.

Namun, di sinilah menariknya. Jika Puan Maharani kelak menjadi wakil presiden, akan menjadi sejarah tersendiri dalam politik Indonesia, khususnya bagi dinasti Soekarno.

Lebih satu dasawarsa lalu, kalangan mahasiswa menggelar unjuk rasa besar-besaran, menuntut Soeharto sebagai penguasa orde baru mengundurkan diri dari kursi kepresidenan.

Salah satu alasan digelarnya unjuk rasa tersebut karena rezim Soeharto yang dinilai terlalu menyuburkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Bayangkan, di masa terakhir pemerintahannya, Soeharto mengangkat banyak saudara dan kroninya untuk dijadikan menteri. Mulai dari saudara tirinya, Bob Hasan yang dijadikan Menteri Kehutanan, hingga Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulungnya,yang dijadikan Menteri Sosial.

Saat ini setelah 11 tahun kejatuhan Soeharto, apa yang menjadi tuntutan mahasiswa saat bergulirnya reformasi, ternyata belum sepenuhnya tercapai.

Prestasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berhasil menjebloskan banyak koruptor ke dalam sel memang patut diacungi jempol. Namun nepotisme hingga kini tetap merajalela.

Kasus Puan Maharani mungkin bisa dijadikan contoh. Prestasi Puan yang yang melejit sebagai politisi muda, mengalahkan politisi kawakan lainnya, tak bisa dipisahkan dari sosok kedua orang tuanya, Megawati dan Taufik Kiemas. Aroma nepotisme begitu kental di balik munculnya Puan sebagai politisi muda PDIP.

Beberapa nama lain di PDIP yang tiba-tiba muncul dengan aroma nepotisme misalnya Maruarar Sirait, putra politisi senior Sabam Sirait.

Namun bukan hanya PDIP yang masih memelihara benih-benih nepotisme di tubuh partai mereka. Hampir semua partai politik, baik partai besar maupun partai baru diliputi aroma nepotisme.

Mulai dari Partai Demokrat yang menjadi pemenang pemilu 2009. Edhie Baskoro Yudhoyono, putra bungsu SBY bisa dengan cepat meroket karir politiknya, dan diperkirakan akan menjadi salah satu penghuni Senayan.

Kemudian ketua partai tersebut, Hadi Utomo juga merupakan adik ipar dari SBY.

Sementara di Partai Golkar, aroma nepotisme juga melekat kental. Dave Akbarshah Fikarno Laksono, putra dari politisi Agung Laksono bisa menjadi caleg DPR RI dapil Jabar II dengan begitu mudahnya.

Sebelum pemilu 2009, nama Dave bahkan tak pernah terdengar gaungnya. Selain itu juga muncul nama Halim Kalla, adik dari Jusuf Kalla sang ketua partai.

Beberapa partai yang mengaku bersih dan profesional, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), aroma nepotisme juga terasa begitu kental.

Sebagai contoh, Sri Rahayu Purwitaningsih, istri Presiden PKS Tifatul Sembiring, berhasil menjadi caleg DPRD Depok dari dapil Cimanggis dengan nomor urut kecil, mengalahkan politisi PKS lain yang lebih dulu malang melintang di Depok.

Kemudian Nur Azizah Tamhid, istri Walikota Nur Mahmudi Ismail, yang merupakan mantan Presiden Partai Keadilan (cikal bakal PKS), menjadi caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur VI.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga tidak ketinggalan mengusung kerabat dari petinggi maupun mantan petinggi partai berlambang ka’bah tersebut. Misalnya ada nama Muhammad Iqbal (putra petinggi PPP Bachtiar Chamsyah), serta Agus Haz (putra mantan Ketua Umum PPP Hamzah Haz).

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di era Gus Dur juga tak berbeda jauh. Ada nama Yenny Wahid yang sempat diangkat menjadi Sekjen Partai, sebelum kemudian didepak oleh Muhaimin Iskandar yang juga keponakan dari Gus Dur.

Keberadaan partai politik selama ini diyakini sebagai salah satu tonggak sekaligus penggerak demokratisasi agar kekuasaan benar-benar tercermin dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Sebab itu, partai politik memiliki fungsi distribusi kekuasaan buat kader-kadernya, agregrasi publik, kontrol atas pemerintah, dan sebagai tempat pendidikan politik masyarakat. Fungsi ini dimaksudkan agar kekuasaan tidak menjadi hak milik yang diklaim secara absolut oleh seseorang atau kalangan tertentu selain rakyat.

Bila memperhatikan prinsip demokrasi dan fungsi partai tersebut, maka partai politik seharusnya melakukan seleksi sebelum menetapkan calon di tingkatan legislatif maupun eksekutif.

Seleksi itu meliputi pengujian kelayakan seperti profesionalitas, integritas, dan kapabilitas serta rekam jejak (track record) dan pertimbangan kaderisasi. Meski dalam partai politik berlaku logika kekuasaan, cara mencapai kekuasaan harus tetap melalui pertimbangan rasional di atas demi ideologi dan idealisme partai.

Dengan maraknya nepotisme dan politik dinasti di hampir semua partai politik saat ini, patut kita semua bertanya, apakah cita-cita reformasi yang digaungkan saat tergulingnya rezim Soeharto sudah tercapai?

Posted in Politik | Leave a Comment »

John Paul Ivan, ingin seperti Rick Rubin

Posted by codoix on October 24, 2008

Di kalangan penggemar musik rock Indonesia, Nama Johannes Paul Ivan mungkin sudah tidak asing lagi. Gitaris gondrong yang aksi panggungnya sering disamakan dengan Slash (eks gitaris Guns and Roses – Red) ini banyak memberi inspirasi bagi anak muda yang ingin mendalami musik cadas.

Pasca pengunduran diri dari Boomerang, band rock yang membesarkan namanya pada 2005 lalu, Ivan seakan tenggelam dan tidak terdengar kabar beritanya. Pria kelahiran Surabaya 37 tahun lalu itu memang sempat bergabung dengan grup band U9. Namun setelah itu dia kembali jarang terdengar.

Lalu apa kesibukan Ivan saat ini? Ditemui di F Bar Jakarta, Rabu sore (22/10) lalu, dia mengaku kegiatannya sekarang tidak jauh-jauh dari dunia ngeband. Ivan saat ini disibukkan dengan gawean sebagai Music Producer sebuah band beraliran pop, Gen-Q yang baru melucurkan album perdananya berjudul “Persembahan Terbaik”

Menjadi seorang produser musik diakui Ivan bukan hal baru bagi dirinya. “Saat menggarap album Extravaganza milik Boomerang, saya juga ikut sebagai co-Producer,” ujar Ivan.

Selain itu kata dia, saat masih aktif sebagai gitaris Boomerang, dirinya juga pernah membantu menggarap musik dua grup band beraliran cadas, Sngkenken dan Black Fores.

“Jadi saya sudah punya cukup pengalaman sebagai seorang produser. Pengalaman inilah yang saya gunakan sekarang saat bertindak sebagai produser musik band Gen-Q,” katanya.

Banyak orang bertanya, seorang John Paul Ivan yang dikenal sebagai musik rock, seorang gitaris yang bermain dengan melodi cepat dan irama keras, sekarang justru mau menggarap musik pop yang kesannya sangat jauh dari sosoknya selama ini.

“Inilah tantangan bagi diri saya pribadi,” ujar Ivan menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, saat menjadi seorang produser, dirinya harus bisa meredam ego personalnya sebagai musisi rock.

“Sebagai produser saya harus mampu menjembatani antara keinginan para personel band dengan perusahaan rekaman. Fungsi saya lebih sebagai mediator. Karena itu saya tidak terlalu ikut campur dengan musik yang ingin dimainkan oleh personel Gen-Q,” ujarnya mengomentari band baru yang digarapnya tersebut.

Menurut Ivan, tugas seorang produser lebih kepada hubungan antar manusia. Menjadi produser, kata dia, harus bisa mempertanggungjawabkan album band yang dihasilkan, apakah bisa laku di pasaran atau tidak.

“Saya pribadi senang dengan berbagai aliran musik, apakah itu jazz, musik klasik, termasuk musik pop. Karena itu saya tidak terlalu kesulitan saat diminta menjadi produser musik sebuah band beraliran pop,” ujarnya.

Ivan menuturkan, menjadi seorang produser berbeda dengan menjadi musisi. “Tidak ada pembatasan saat menjadi seorang produser. Kita bisa menggarap musik aliran apa saja,” katanya.

Dia pun mencontohkan Rick Rubin dan Bob Rock, dua produser musik handal asal negeri Paman Sam yang pernah menangani band seperti Metallica, Red Hot Chili Peppers,

“Rick Rubin adalah contoh produser musik yang ideal. Dia bisa menangani dan menggarap musik dari aliran apa saja, apakah itu metal, hip-hop, rap, alternatif, pop, dan aliran musik lainnya,” katanya.

Tanpa canggung Ivan menyatakan keinginannya mengikuti jejak seorang Rick Rubin. “Saya ingin seperti dia. Sekarang saya menangani band beraliran pop. Suatu saat saya juga ingin menangani band yang benar-benar rock atau aliran musik lainnya,” tandasnya.

Meski saat ini asyik dengan dunia barunya, Ivan juga tidak dapat menyembunyikan keinginannya kembali menjadi gitaris dan tampil di depan banyak penggemar. Termasuk keinginan bereuni dengan teman-temannya di Boomerang.

“Kadang ada rasa rindu tampil dengan Boomerang dan memainkan lagu-lagu mereka. Bagi saya Boomerang adalah sebuah band ideal dan seperti itulah band yang saya inginkan,” katanya.

Namun Ivan tidak tahu entah kapan keinginan itu akan terwujud. Dia juga mengaku tidak pernah lagi bertemu atau sekedar mengobrol dengan rekan-rekan lamanya di band tersebut.

Kendati sempat membuat proyek album solo, namun Ivan tidak mau melanjutkan hal itu. “Pasarnya terlalu sedikit. Lagi pula bagi saya pribadi, bermain band jauh lebih asyik daripada bermain solo,” ujarnya.

Gitaris yang mengaku sangat dipengaruhi oleh Led Zeppelin dan Jimi Hendrix itu mengatakan suatu saat juga ingin kembali ke “dunia aslinya”.

“Sekarang belum ketemu aja dengan orang-orang yang cocok dan sepaham dengan saya. Karena membentuk sebuah band tidaklah gampang. Kita harus bisa menggabungkan ego dari semua personel band agar bisa sejalan,” tuturnya.

Walaupun saat ini tidak punya band tetap, Ivan juga masih sering tampil di panggung menjadi bintang tamu bagi band-band lain, ataupun tampil bersama Disc Jockey.

“Paling sering tampil bersama DJ Davina. Main bareng band lain juga pernah seperti Padi, Gigi, Riff, maupun band lain,” katanya.

Salah satu keinginannya yang belum terwujud hingga sekarang adalah tampil sepanggung bersama Slank dan Iwan Fals. “Itu cita-cita saya dari dulu. Main bersama Slank. Kalau duet bersama Abdee sih sering. Tapi bersama Slank nggak pernah. Suatu saat saya ingin hal itu terwujud,” ujarnya.

Bagi Ivan, tampil bersama band lain banyak hal yang bisa diperoleh. “Ada proses pembelajaran dalam bermusik yang bisa didapatkan saat tampil dengan band-band seperti itu,” katanya. (Dodi Esvandi)

Biografi :

Nama Asli: Johannes Paul Ivan

Tempat/Tgl Lahir: Surabaya, 3 Januari 1971

Gaya Permainan: Rock

Grup band: Radd, Buldozer, Big Panzer, Lost Angels, Boomerang, U9

Pengaruh musik : KISS, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, Joe Satriani, Zakk Wylde

Album :

-Indonesian Rock & Metal (1990)

-Boomerang (1994)

-Boomerang – K.O.(1995)

-Boomerang – Disharmoni (1996)

-Boomerang – Segitiga (1998)

-Best Ballads of Boomerang (1999)

-Hard ‘n Heavy of Boomerang (1999)

-Boomerang – X’travaganza (2000)

-Boomerang – Terapi Visi (2003)

-A Tribute to Ian Antono (2004)

-Boomerang – Urbanoustic (2004)

-U9 – Complex (2006)

Peralatan :

1.Gitar :

-Berbagai jenis produksi Gibson

-Fender Mustang

-Fender Telecaster

-Ibanez JS-1

-Jerry Jones Electric Sitar

-Danelectro Electric Guitar

-Carvin SC-JPI

-Ovation 1994 limited edition acoustic guitar

2.Ampli & Effect :

-Marshall series

-Red Bear

-Carvin MTS dan Legacy

-Peavey 5150

Posted in Musik | 1 Comment »

Hari kemenangan?

Posted by codoix on September 30, 2008

Gema takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang di seantero alam. Semua bergembira menyambut hari yang fitri. Semua senang menyambut hari kemenangan. Semua berkumpul dengan keluarga masing-masing. Semua memakai baju baru.

Tapi aku di sini justru merasa sendiri. Tanpa keluarga, tanpa teman. Tak ada kegembiraan. Tak ada suka cita. Lalu apa makna Idul Fitri yang sebenarnya.

Alhamdulillah aku masih bisa menjalankan kewajiban berpuasa sebulan penuh, sama seperti tahun lalu. Tapi, lagi-lagi aku harus kembali melewatkan lebaran sendirian, sama seperti tahun kemarin. Jauh dari ibu, jauh dari keluarga. Tak ada baju lebaran, tak ada salam-salaman, tak ada ketupat lebaran, tak ada semuanya.

Semoga tahun depan bisa lebih baik. Semoga tahun depan nggak sendirian lagi. Aku rindu lebaran di rumah. Aku rindu kampung halaman. Aku rindu semuanya.

Posted in Cerita harian | Leave a Comment »

Selangkah lagi Metallica…

Posted by codoix on September 19, 2008

Gambar album baru Metallica

Gambar album baru Metallica

Kebesaran Metallica memang terasa belum genap kalau supergrup heavy metal itu belum tercatat dalam Rock and Roll Hall of Fame. Kini, langkah tersebut terbuka lebar.

Metallica akan bersaing dengan perintis hip hop Run DMC dan tujuh calon lainnya dalam perebutan lima tempat terbuka di Rock and Roll Hall of Fame pada tahun depan.

Seperti dikutip dari rockhall.com, ikut juga dalam persaingan tersebut adalah band punk Detroit, The Stooges, gitaris Jeff Beck, band disco-punk Chic dan para rocker War.

Calon lainnya adalah Little Anthony & the Imperials, penyanyi rock Wanda Jackson yang sering disebut sebagai The First Lady of Rock and Roll, dan penyanyi soul dekade 1970-an Bobby Momack.

Lima dari sembilan calon akan dipilih oleh 500 profesional yang bergerak dalam industri musik pada Januari 2009 dan akan diresmikan dalam upacara yang digelar pada 4 April di Public Hall, Cleveland.

Panitia menyatakan kelompok yang berhak memperoleh penghormatan itu paling tidak telah berkiprah selama seperempat abad sejak rilis single pertama mereka.

Tahun ini, Metallica setelah menunggu sekitar lima tahun untuk meluncurkan album terbaru bertajuk Death Magnetic yang menjadi album rekaman studio kesembilan band metal asal Los Angeles itu.

Dalam album terbaru ini, James Hetfield (vokal dan gitar), Lars Ulrich (drum), Kirk Hammet (gitar) mendapat sentuhan orisinal pemain bas Robert Trujillo yang sebelumnya bermain untuk Suicidal Tendencies dan Ozzy Osbourne.

Dalam album terbaru itu, penggemar Metallica kembali dipuaskan dengan solo gitar dari Kirk Hammet dan James Hetfield dalam lagu Suicide & Redemption yang membawa ciri khas speed ala 1980-an.

Tak hanya itu, dalam album yang digarap Rick Rubin ini, Metallica banyak membicarakan tentang kematian. Menurut Hetfield kepada NME, judul album ini bisa dianggap sebagai penghargaan untuk orang-orang yang meninggal di dalam bisnis ini.

Satu tembang menarik yang tak kalah menarik adalah The Unforgiven III yang merupakan sekuel dari The Unforgiven di album Black Album (1991) dan The Unforgiven II di album ReLoad (1997).

Bagi sejarah musik metal, The Unforgiven adalah magnum opus. Tembang ini pernah dibawakan dalam beberapa versi, seperti bluegrass yang mendayu, klasik bahkan paduan suara gregorian.

Tentu saja, beberapa lagu dalam album ini masih mengusung karakter khas Metallica yang mengutamakan nuansa pekat dan vibrasi gloomy. Warna itu ada pada tembang Cyanide, My Apocalypse, Suicide & Redemption dan tentu saja Broken, Beat & Scarred.

Mundur dan bocor

Sejatinya album baru Metallica berisi 15 lagu seperti yang dituturkan James Hetfield dalam jumpa pers di Tallinn Song Festival Grounds, Estonia awal tahun lalu. Namun, dengan pertimbangan kualitas terbaik akhirnya ada lima tembang yang batal tayang.

Proses mencari yang terbaik ini yang membuat Death Magnetic mundur hampir setahun dari jadwal yang sebenarnya dirilis Maret atau Juli 2007. Penantian yang begitu membetot kesabaran para penggemarnya.

Sampai-sampai, saking tak sabarnya para penggemar, album ini akhirnya bocor sepekan menjelang peluncuran, 12 September lalu. Akibat kebocoran di Internet itu, sebuah toko di Prancis sudah menjual album ‘bajakan’ tersebut.

Toh kecelakaan ini justru tak disesali Lars Ulrich. Dalam wawancara dengan stasiun radio Live 105 yang dikutip situs online hiburan, dia malah bersyukur album ini bocor sebelum waktunya. Hal yang justru membuat penasaran penggemar semakin membuncah.

Alasan lain, sejak vakum lima tahun terakhir, manajemen Metallica telah memutuskan untuk membiarkan para pengge- marnya men-download musik mereka melalui Internet.

Hasilnya memang luar biasa. Beberapa tembang dari album bajakan itu juga telah beredar di kalangan pencinta grup musik tersebut dan menjadi sebuah viral marketing luar biasa.

Situs metal, roadrunnerrecords.com menyebutkan album terbaru Metallica pelan tetapi pasti mendekati puncak The Billboard 200. Dalam sepekan peluncurannya sudah 250.000-275.000 keping cakram padatnya terjual.

Dengan jumlah penjualan mencapai 490.000 keping dalam waktu empat hari, Metallica menyamai rekor The Beatles, U2 dan Dave Mattews Band di Amerika Utara.

Album Death Magnetic bahkan me-nguasai puncak tangga lagu di sejumlah negara a.l. Argentina, Belgia, Kanada, Republik Cek, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, Norwegia, Polandia dan Swiss.

Melihat geliat Metallica rasanya melangkah ke Rock and Roll Hall of Fame pada tahun depan yang prestius tinggal selangkah lagi.

Posted in Musik | Leave a Comment »

I will be married…, soon…

Posted by codoix on September 6, 2008

Saya akan segera menikah, sehabis lebaran.” Bagaimana perasaan kamu jika kata-kata seperti itu meluncur dari orang yang pernah sangat kamu cintai, walaupun hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Sabtu siang kemarin hanphone Nokia N-Gage warna hitam esayanganku berdering. Di layarnya tertera tulisan ‘MetalliCA yeah calling…”

Awalnya tidak ada perasaan aneh menjawab panggilan dari wanita yang pernah sangat aku idolai bertahun-tahun selama mengecap bangku perguruan tinggi itu. Saat itu, berkali-kali aku mengutarakan perasaan kepadanya, namun berkali-kali juga aku mendapat kata-kata penolakan.

Namun anehnya, sama sekali tidak ada perasaan kesal, marah, benci, atau sakit hati saat dia mengatakan kata penolakan tersebut. Pengecualian mungkin sekitar tahun 2002 lalu, saat aku sedang KKL di Jakarta, dan dia ada kunjungan ke Malaysia (It’s just old stories…)

Usai meninggalkan ‘Kota Bingkuang’ sekitar dua tahun lalu, kami menjalin komunuikasi dan saling memberi kabar. Bahkan tahun lalu aku masih sempat bertemu dengan saat ada kegiatan di Cibubur.

Namun saat kalimat itu meluncur dari mulutnya, seakan ada kilat dan petir yang menyambar. Walalupun perasaan yang ada sekarang tidak seperti ‘zaman muda’ dulu, jujur harus diakui, masih ada sedikit perasaan yang tersisa.

Mendengar kabar seperti itu langsung dari seorang yang pernah kamu gila-gilai bukan pengalaman baru bagi aku. Lebih setahun lalu, aku juga pernah mendengar kalimat seperti itu, bahkan dari orang yang saat itu statusnya masih sebagai belahan hati.

Kendati pernah merasakan perasaan yang lebih menyakitkan, tetap aja kejadian Sabtu siang itu membuat pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun yang lalu. Akhirnya aku hanya berkesimpulan, Tuhan memang Maha Mengatur segalanya. Dan aku masih tetap mencari sosok misterius itu. Apakah aku sudah pernah bertemu orangnya atau belum, hanya Dia yang tahu…..

Posted in Cerita harian | 1 Comment »

Best guitaris in the world

Posted by codoix on August 4, 2008

Gitar mungkin merupakan instrumen musik yang paling banyak dimainkan orang di seluruh dunia. Lalu siapakah pemain gitar terbaik yang pernah dilahirkan ke muka bumi? Pertanyaan ini selalu muncul ke dalam benak saya sejak mengenal musik.

Ada banyak pemain gitar jenius yang muncul. Mereka semua adalah sosok yang sangat luar biasa. Nama-nama seperti JimiHendrix, Steve Vai, Joe Satriani, atau Yngwie Malmstein, Eric Clapton, atau Carlos Santana mungkin sudah tidak asing lagi.

Saya akan coba menulis 10 gitaris terbaik versi penulis. Mungkin sedikit subjektif. Tapi untuk urusan musik, sulit mencari hal yang objektif.

1. Jimi Hendrix (“Sang Dewa Gitar”)

Gitaris rock zaman kini yang mencari guru abadi atau sekadar melongok puncak permainan hanya akan menemui satu orang: Jimi Hendrix. Kepadanyalah, dan dari dia sajalah, segala teknik yang ada sekarang dirujukkan. Simak pengakuan-pengakuan yang dipublikasikan majalah Guitar (November 1997): ‘Dialah hal terbesar yang pernah kulihat,” kata Stevie Ray Vaughn, . gitaris bluesyang tewas dalam kecelakaan helikopter pada 1990.

‘Sependapat, Keith Richards, pemetik gitar The Rolling Stones, menyatakan bahwa Stevie ”memainkan ramuan materi yang sangat menarik”. Dan Eric Clapton, salah seorang gitaris yang pada 1970-an dijuluki dewa gitar, mengakui dengan Jimi-lah ”aku akhirnya merasa bertemu orang lain yang bisa kuajak bicara dan bermain”.

Fenomena itu sebenarnya paradoks dengan kenyataan bahwa Jimi sudah tak ada lagi. Ia meninggal di Rumah Sakit St. Mary Abbot, London, karena berlebihan menelan obat bius. Konon, ia sengaja mengakhiri hidupnya sendiri (pesan-pesan dan pernyataan-pernyataannya sebelum itu, seperti dikutip Q Encyclopedia of Rock Stars, antara lain, berupa: ”Aku sudah mati sejak lama.”)

Namun jika memperhatikan benar, Jimi-lah yang ”menemukan” hampir semua kemungkinan eksplorasi bermain gitar. Pada masanya, ketika aksesoris sound masih sangat terbatas, ia sudah memainkan wah dan distorsi secara sempurna — yang lalu menjadi fondasi rock ‘n roll di masa-masa sesudahnya. Ia bahkan melengkapi diri dengan jurus-jurus akrobatik, misalnya memetik senar dengan gigi.

Lahir pada 27 November 1942 di Seattle, Amerika Serikat, dengan nama Johnny Allen Hendrix, Jimi menaruh perhatian pada musik, khususnya gitar, sejak kecil. Jagoan gitar pada masa-masa itu, seperti B.B. King, Muddy Waters, Buddy Holly, dan Robert Johnson, menjadi idolanya. Gitar pertama, jenis akustik, diperolehnya dari ayahnya pada musim panas 1958. Dengan modal itu ia bergabung dengan The Velvetones. Dan sejak itu jalan hidupnya seperti sudah digariskan.

Dengan The Velvetones Jimi hanya ikutan tiga bulan. Pada musim panas berikutnya, berbekal gitar listrik baru yang diperolehnya, lagi-lagi, dari ayahnya, Jimi bergabung dengan The Rocking Kings. Sesudah itu Jimi sempat mengikuti wajib militer, dan membentuk band di barak, tapi tak lama. Cedera menyebabkannya diberhentikan dari dinas. Perubahan besar terjadi ketika, sebagai gitaris pocokan yang sudah kenyang bermain dengan bermacam artis, pada 1966, ia bertemu Chas Chandler, pembetot bas Animals — band yang punya hit The House of the Rising Sun.

Chas, yang memutuskan keluar dari Animals dan memilih pekerjaan baru sebagai manajer, membawa Jimi ke Inggris. Di sana Chas mempertemukan Jimi dengan Mitch Mitchell, dramer, dan Noel Redding, pemain gitar yang diminta membetot bas. Bersama mereka berdua, Jimi lalu membentuk Jimi Hendrix Experience.

Experience cepat melambung. Single pertamanya, Hey Joe, sempat 10 minggu ngendon di tangga lagu-lagu Inggris, mencapai posisi tertinggi keenam pada awal 1967. Sukses ini segera disusul album Are You Experience?. Inilah rekaman yang disebut-sebut sebagai kompilasi baru musik yang sama sekali radikal; album yang menyuarakan semangat generasi pada masa itu.

Tapi popularitas di negeri sendiri baru diperoleh ketika Jimi berkesempatan manggung di Monterey International Pop Festival, County Fairground, Monterey, Kalifornia, pada 1967. Di sinilah Jimi memamerkan aksi teatrikal yang fenomenal: membakar dan menghancurkan gitarnya.

Bendera karier Jimi terkerek tinggi-tinggi sejak itu. Berturut-turut, dalam waktu kurang dari setahun, antara 1968-1969, bersama Mitch dan Noel, ia merilis Axis: Bold as Love dan album ganda Electric Ladyland. Pada album yang disebut terakhir Jimi, yang akhirnya memiliki studio sendiri, mengerahkan seluruh kemampuannya sebagai gitaris maupun sebagai operator-sound engineer. Sukses besar. Tapi korban tak terhindarkan: Experience bubar.

Jimi memang tak lalu ikut tenggelam. Ia bahkan masih sempat meramaikan festival band yang hingga kini tak terlupakan dalam sejarah musik rock: Woodstock Music & Art Fair. Waktu itu tahun 1969. Jimi, yang tampil bersama Gypsy Sons & Rainbows (antara lain diperkuat Mitch), mengantongi bayaran 125 ribu dolar Amerika Serikat, tertinggi di antara para artis lain.

Sebuah bayaran yang pantas, tapi, rupanya, itulah penampilan akbar terakhir bagi Jimi. Setahun kemudian ia lebih memilih meninggalkan semuanya, selama-lamanya. Secara fisik, sih. Soalnya, pengaruh Jimi justru tetap hidup hingga kini.

2. Joe Satriani (“Steve Vai: selama Joe Satriani tetap berkarya, saya akan tak akan kehilangan inspirasi”)

Joe Satriani, pertama kali belajar gitar pada saat berumur 14 tahun. Pada umur 15 tahun, Joe sudah mengajar gitar (selama 3 tahun) kepada beberapa muridnya yang antara lain adalah Steve Vai, Kirk Hammet (Metallica) dan Larry LaLonde (Primus). Dapat dibayangkan betapa tekunnya dan cepatnya Joe mendalami permainan gitarnya.

Sambil mengajar di Second Hand Guitar, Berklee, Joe merilis albumnya yang pertama tahun 1986 yang berjudul Not Of This Earth. Tahun berikutnya, Surfing With The Alien dirilis dan mendapatkan gold dan platinum sales. Tahun 1989 Surfing in a Blue Dream pun dirilis dan mencapai angka 750.000 keping untuk penjualannya dan masuk ke nominasi Grammy Awards. Tahun 1992 The Extremist dirilis yang juga masuk nominasi Grammy Awards dan mencapai peringkat 24 di Billboard chart.

Tahun berikutnya, Time Machine (dobel CD) dirilis. Di tahun 1995 album yang berjudul Joe Satriani dirilis dan lagu My World masuk nominasi Grammy Awards. Tahun 1998 Joe merilis albumnya yang ke delapan berjudul Crystal Planet.

Di tahun 2000 Joe merilis album Engines Of Creation. Di album ini Joe melakukan eksperimen dengan rekaman menggunakan rhytm-rhytm yang dibuat di komputer. Tahun 2001 Joe merilis album live nya Live in San Fransisco.

Selain merilis album solonya, Joe Satriani juga merupakan penggagas diadakannya G3. Bersama Steve Vai, Joe sudah beberapa kali mengadakan konser G3 dengan dewa gitar lainnya seperti Eric Johnson (1996), Adrian Leggs, Kenny Wayne Shepherd dan Robert Fripp (1997), Michael Schenker dan Uli John Roth dengan Brian May sebagai Guest Star untuk show di London dan Patrick Rondat di Perancis (1998) dan John Petrucci (2001).

Joe Satriani juga berpartisipasi dalam proyek Merry Axemas-nya Steve Vai dan memainkan satu lagu Silent Night yang di aransemen ulang dan juga pernah mengisi posisi gitar untuk Deep Purple di tahun 1990-an.

3. Steve Vai (“Dewa gitar yang flamboyan dan serba bisa”)

Siapa yang tidak kenal dengan dewa gitar yang satu ini? Permainannya mulai dari blues, jazz, rock sampai klasik dan ethnic music. Permainan gitarnya pun tidak terbatas pada komunitas gitar saja tetapi juga bagi orang-orang awam yang tidak mendalami gitar.

Pada umur 6 tahun, Steve mulai belajar piano. Pada umur 10 tahun, Steve mulai belajar bermain akordeon. Pada umur 13 tahun barulah Steve mulai mendalami gitar dan sejak saat itu lahirlah seorang dewa gitar yang baru.

Steve Vai mengawali karirnya dengan album debutnya Flex-Able Leftovers pada tahun 1984. Pada tahun 1990, Steve merilis album keduanya yang berjudul Passion and Warfare.Album ini mendapat pengakuan internasional dan Steve memenangkan polling pembaca majalah Guitar Player dalam 4 kategori yang berbeda.

Album Steve yang ketiga berjudul Sex & Religion dirilis tahun 1993 dan album keempatnya Alien Love Secrets dirilis tahun 1995. Pada tahun 1996 album kelima Steve Fire Garden dirilis.

Tahun 1999, Steve meluncurkan album keenamnya yang berjudul Ultra Zone. Dalam album ini Steve lebih banyak memfokuskan dirinya dalam komposisi lagu dan bereksperimen dengan gitarnya.

Tahun 2001 album The Seventh Song dirilis dan album ini berisi lagu-lagu slow/ballad yang pernah dirilis Steve dengan ditambah beberapa lagu baru. Dan di tahun 2001 Alive in an Ultra World pun dirilis.

Steve Vai juga pernah memproduksi 2 album Natal yang berjudul Merry Axemas Vol.1 dan Merry Axemas Vol.2, juga konser G3 bersama Joe Satriani dan Eric Johnson/Kenny Wayne Shepherd dan terakhir John Petrucci turut juga bergabung dalam G3.

Belakangan ini Steve Vai lebih memfokuskan diri bereksperimen pada permainan gitarnya dan sekarang ini band Steve Vai ditambah seorang pemain bass yang sudah tidak asing lagi buat fans-fans rock tahun 80-an, Billy Sheehan. Belum pasti kapan album barunya akan beredar, kita tunggu saja… liberty and justice for all!

4. John Petrucci (“Salah satu gitaris progressive yang paling popular”)

John besar di Long Island, tepatnya di King park, dimana dia, john myung & Kevin moore bersekolah bersama. John mulai Belajar gitar ketika masih berumur 12 tahun (sebelumnya dia pernah belajar ketika berumur 8 tahun tetapi menyerah ketika Dia melihat kakak perempuannya harus begadang tiap malam belajar main organ. Dia tidak merencanakan untuk menjadi seperti Itu, Dia belajar gitar sepulang sekolah dan akhirnya dia menjadi tidak tertarik lagi).

Namun dia mulai banyak terpengaruh Oleh permainan gitar dari gitaris semacam Yngwie Malmsteen, Randy Rhoads, Iron Maiden, Steve Ray Vaughn, dan grup besar Semacam Yes, Rush, Dixie dregs dan lain lain dia mulai bertekad untuk mencapai level permainan seperti mereka.

Sebagaimana kemunculan musik trash metal yang membuat John tertarik, maka John juga memperluas influence nya dengan Mendengarkan Metallica & Queensryche. John merasa membutuhkan tantangan yang lebih dalam tehnik guitar oleh karena itu Dia banyak mengadaptasi hammering speed & melodic style dari gitaris-gitaris seperti Steves (Steve Morse & Steve Vai), The Als (Allan Holdsworth & Al Dimeola) Mike Stern, Joe Satriani, Neal Schon & Eddie Van Halen.

Pendidikan musiknya dimulai dengan berbagai kelas teori musik yang dia ambil ketika high school. Dia belajar secara otodidak, tetapi dia sempat menerima beberapa pelajaran gitar yang dia ambil ketika dia masuk ke Berklee College of Music di Boston, dimana dia Mempelajari komposisi jazz dan harmoni.

Ketika di Berklee John Petrucci dan John Myung yang juga belajar di berklee bertemu dengan Mike Portnoy, dan mereka mulai membuat band yang diberi nama Majesty yang nantinya kemudian berganti nama menjadi Dream Theater. John sudah merekam 7 album dengan Dream Theater, dan dia juga banyak terlibat dengan beberapa proyek sampingan seperti Liquid Tension Experiment Dengan Tony Levin, Age of Impact, dan bahkan game Sega Saturn yang disebut Necronomicon, dan juga terakhir dia terlibat dalam proyek G3 Bersama Joe Satriani dan Steve Vai. Kecintaan dia pada menulis lirik dikombinasikan dengan gaya komposisi yang unik dari progressive fusion Mengasah bentuk musik dari Dream Theater.

John tinggal bersama istrinya Rena, dan 3 anaknya SamiJO, Reny, dan Kiara di New York. Ketika dia tidak bermain gitar dia banyak menghabiskan Waktunya dengan istri dan anak-anaknya dengan bermain skating, bersepeda, berolahraga dan menontong film.

John sedang merencanakan membuat solo albumnya yang pertama. Lagu-lagu barunya yang dia mainkan ketika bersama G3 juga akan ada di solo album tersebut. Jaws of Life (sebelumnya I.B.S.), Damage Control and Glasgow Kiss. Dia melibatkan beberapa musisi seperti Dave LaRue pada bass, Dave DiCenso dan Tony Verderosa pada drum.

5. Yngwie Malmsteen (“Pahlawan dan pelopor gitaris shredder sedunia dari Swedia”)

Yngwie Malmsteen merupakan pelopor yang melahirkan seluruh gitaris shredder yang kami tampilkan di website ini. Setelah Eddie Van Halen (Van Halen) pertama kali membawakan tembang “Eruption” pada tahun 1978 yang memperkenalkan teknik “two handed tapping”, Yngwie meluncurkan album klasik baroque shred debutnya “Rising Force” yang mengegerkan komunitas gitar rock, menciptakan standar baru untuk kecepatan & keahlian dalam bermain. Warna “Neo-Classical” yang di bawahkan Yngwie adalah berdasarkan struktur komposisi dari J.S Bach (1685-1750) dan Niccolo Paganini (1782-1840).

Setelah itu muncul para gitaris shredder yang menghasilkan sekian banyak album yang sukses. Hampir setiap minggu muncul gitaris baru yang mengklaim dirinya sebagai gitaris baru yang paling cepat di dunia. Sebagai contoh: Paul Gilbert, Marty Friedman, Jason Becker, Richie Kotzen, Vinnie Moore, Tony Macalpine, Greg Howe, dll. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Yngwie merupakan pahlawan gitar yang patut diacungi jempol.

Pernikahan ayah Yngwie (seorang kapten tentara) dan ibunya (Rigmor – seniman) diakhiri dengan penceraian tidak lama setelah Yngwie lahir. Di samping itu Yngwie juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Ann Louise dan kakak lelaki Bjorn. Yngwie terlahir sebagai anak bungsu yang liar, tidak bisa diatur dan ceria.

Pada awalnya Yngwie mencoba untuk mempelajari piano dan trumpet tetapi ia tidak dapat menguasai alat musik tersebut. Acoustic guitar (gitar bolong) yang dibeli oleh ibunya pada waktu dia berusia 5 tahun juga tidak disentuh Yngwie dan dibiarkan bergelantung di dinding.

Sampai akhirnya pada tgl 18 September 1970, Yngwie melihat sebuah acara spesial mengenai meninggalnya Jimi Hendrix. Di situ Yngwie yang masih 17 tahun tsb menyaksikan bagaimana Jimi Hendrix menghasilkan bunyi feedback guitar dan membakar gitarnya di depan penonton. Pada hari wafatnya Jimi Hendrix tsb lahirlah permainan gitar Yngwie.

Yngwie yang penasaran tersebut kemudian membeli sebuah Fender Stratocaster murah, mencoba memainkan tembangnya Deep Purple dan menghabiskan banyak waktu untuk mengetahui rahasia dari alat instrumen dan musiknya sendiri. Kekaguman Yngwie terhadap Ritchie Blackmore (gitaris Deep Purple) yang dipengaruhi oleh musik klasik dan kekaguman terhadap kakak perempuannya yang sering memainkan komposisi Bach, Vivaldi, Beethoven, dan Mozart, memberikan ide kepada Yngwie untuk menggabungkan musik klasik tersebut dengan musik rock. Yngwie terus bermain seharian penuh sampai tidurpun dia masih tetap bersama gitarnya.

Pada usia 10 tahun, Yngwie menggunakan nama kecil dari ibunya “Malmsteen”, mengfokuskan seluruh energi dia dan berhenti bersekolah. Di sekolah Yngwie dikenal sebagai pembuat onar dan sering berantem, tetapi pintar dalam pelajaran bahasa Inggris dan seni. Ibunya yang menyadari bakat musiknya yang unik, mengizinkan Yngwie tinggal di rumah dengan rekaman dan gitarnya. Setelah menyaksikan violinis Gideon Kremer membawakan komposisi Paganini: 24 Caprices di televisi, Yngwie akhirnya mengetahui bagaimana cara mengawinkan musik klasik dengan skill permainan dan karismanya.

Yngwie dan beberapa temannya merekam 3 lagu demo dan dikirim ke studio rekaman CBS Swedia, tetapi rekaman tersebut tidak pernah digubris atau diedarkan. Oleh karena frustasinya, Yngwie menyadari bahwa dia harus meninggalkan Swedia dan mulai mengirimkan demo rekaman dia ke berbagai studio rekaman di luar negeri. Salah satu dari demo tape Yngwie ternyata jatuh ke tangan konstributor Guitar Player dan pemilik Shrapnel Records: Mike Varney. Akhirnya Yngwie mendapat undangan ke Los Angeles untuk bergabung dengan band terbaru Shrapnel: “Steeler” dan seterusnya yang disebut sebagai sejarahnya. Pada bulan February 1983 Yngwie berangkat dari Swedia ke Los Angeles dengan bekal keahlian dan gaya permainan barunya.

Selanjutnya permainan Yngwie dikenal dunia dengan permainannya yang sangat cepat di intro lagu “Hot On Your Heels”. Yngwie kemudian pindah ke group band Alcatrazz, sebuah band yang bergaya “Rainbow” dan didirikan oleh penyanyi Graham Bonnett. Walaupun telah bergabung dengan Alcatrazz yang menampilkan sekian banyak solo hebat di lagu “Kree Nakoorie”, “Jet to Jet,” dan “Hiroshima Mon Amour”, Yngwie masih merasa terlalu dibatasi oleh band itu sendiri. Akhirnya Yngwie berpikir bahwa hanya album sololah yang menjadi solusi terbaik.

Album solo pertama Yngwie: Rising Force (kini dinobatkan sebagai kitab musik rock Neo-Classical) berhasil memasuki nomor 60 di tangga Billboard charts untuk musik instrumental gitar tanpa berbau komersil. Album ini juga memenangkan nominasi Grammy untuk Instrumental Rock Terbaik. Tidak lama kemudian Yngwie terpilih sebagai Gitaris Pendatang Baru Terbaik di berbagai majalah dan media, Gitaris Terbaik Tahun Itu, dan Rising Force menjadi Album Terbaik untuk tahun itu juga.

Pada 22 June 1987 mendekati ultah Yngwie yang ke-24, Yngwie mengalami kecelakaan dengan mobil Jaguarnya yang mengakibatkan dia koma hampir seminggu. Penyumbatan darah pada otak Yngwie juga menyebabkan tangan kanannya tidak berfungsi. Karena takut akan karirnya yang akan berakhir itu, Yngwie dengan susah payah mengikuti terapi untuk memulihkan kembali tangan kanannya. Setelah itu Yngwie mendapat cobaan lagi dari kematian ibunya di Swedia akibat penyakit kanker yang menghabiskan banyak biaya medical. Jika Yngwie orang lain, mungkin sudah menyerah dengan nasib seperti itu, tetapi Yngwie justru berubah dan kembali ke musiknya dengan semangat tinggi.

Setelah itu Yngwie meluncurkan album yang laris manis seperti Odyssey, Eclipse, Fire & Ice, Seventh Sign, I Can’t Wait, Magnum Opus, Inspiration, Facing the Animal, Alchemy, War To End All Wars dan akhirnya Yngwie berhasil mewujudkan cita-citanya untuk bermain bersama sebuah Orkestra penuh di salah satu album terbarunya: Concerto Suite for Electric Guitar and Orchestra in Eb minor, Op. 1 (tahun 1998).

Ketika merelease albumnya Eclipse (1990), Yngwie sempat tour dan membuat konser yang sukses di Indonesia (Jakarta, Solo, & Surabaya). Rencananya pada bulan July 2001 ini Yngwie juga akan konser kembali di Indonesia, namun dibatalkan karena pemerintah USA & istrinya menasehati Yngwie akan keamanan politik di Indonesia. Padahal tiket Yngwie sudah sempat laku keras di Indonesia, penggemar Yngwie di Indonesia boleh kecewa. Kapan lagi Yngwie akan konser di Indonesia apabila keadaan politik Indonesia masih seperti ini?

Album-album berikutnya adalah Attack!! yang memuat nomor hits instrumental Baroque & Roll. Pada tahun 2003, Yngwie diajak bergabung dalam formasi G3 bersama Joe Satriani dan Steve Vai yang menelurkan 1 album dan 1 video. Setelah selesai tur bersama G3, ia merampungkan album terbarunya Unleash The Fury. Album tersebut direlease diawal taun 2005.

6. Paul Gilbert (“Salah satu dewa gitar dengan permainan paling cepat dan bersih”)

Paul Gilbert merupakan salah satu dewa gitar seperti halnya Steve Vai, Yngwie, John Petrucci lainnya. Sebelumnya Paul dikenal melalui group bandnya Mr.Big, rekaman Mr.Big yang laku keras turut membesarkan nama Paul di dunia musik rock.

Paul sendiri sudah cukup mengegerkan dunia gitaris pada tahun 86-87 sebagai pemain gitar tercepat di dunia ketika Paul masih bergabung dengan group band Racer X. Teknik permainannya telah sempurna saat ia baru menginjak 17 tahun itu.

Pada usia 5 tahun (1971) Paul sudah mulai mempelajari gitarnya, 10 tahun berikutnya (1981) Paul coba mengirim demo rekamannya ke produser Mike Varney dan di luar dugaanya Mike sangat mengagumi permainannya di samping Tony Macalpine.

Pada tahun 1984 Paul pindah ke LA dan melanjutkan sekolah gitarnya ke GIT (Guitar Institute of Technology) dan kini telah menjadi instruktur sekolah gitar bergengsi ini.

Pada tahun 1986 dia bergabung dengan band pertamanya Racer X dengan album debutnya “Street Lethal “, kemudian “Second Heat” (1987) & “Live! Extreme Volume” (1988).

Pada tahun 1989 Paul meninggalkan Racer X dan bergabung dengan group band MR.BIG dengan pemain bass yang disegani “Billy Sheehan”, vocalis Eric Martin dan drummer Pat Torpey.

Mereka meluncurkan album pertamanya “MR.BIG” dan MR.BIG tampil untuk pertama kalinya di Jepang pada bulan Oktober.

Selanjutnya Paul meluncurkan album berikutnya: “Live! Raw Like Sushi” (1990), “Mr Big – Lean into it” (1991), “Mr.Big – San Francisco Live” (1992), “Racer X – Live Extreme Volume 2″ (1992), “Mr.Big – Bump Ahead” (1993), “Mr.Big – Live! Raw Like Sushi 2″ (1994), “HEY MAN” & ” The best of MR.BIG” (1996), “Hard Rock Cafe”, ” Live At Budokan ” & solo ” King of Club” (1997).

Lagu “To Be With You” (dari Album “Lean Into It”) menduduki posisi pertama di majalah Billborad USA selama 3 minggu.

Pada tahun 1998 Paul tampil pertama kali di Jepang dengan solo albumnya. Paul meluncurkan album solo “Flying Dog”. Tahun 1999 Paul kembali ke Jepang dan meluncurkan album solo kedua “Beehive Live” dan album ketiga Racer X “Technical Difficulties”.

Tahun 2003 album Burning Organ dirilis, kali ini masuk ke label Indonesia dibawah naungan Staria Enterprise. Namun album berikutnya, Acoustic Samurai tidak lagi di Staria, melainkan berpindah ke label Variant Music. Kemudian Paul menggelar promo tur album “Spaceship One” hingga ke Indonesia. Hal ini disambut antusias oleh penggemar-penggemarnya, pasalnya banyak artis asal Amerika yang menarik diri karena takut disweeping oleh pihak-pihak tertentu.

7. Nuno Bettencourt (“Dewa gitar yang mempelopori warna Funky Metal”)

Nuno Bettencourt merupakan gitaris rock yang terbaik dalam permainan ritemnya. Beberapa gitaris lain yang dapat menandingi permainan ritemnya dapat terhitung misalnya: John Petrucci, Darren Housholder dan beberapa pemain funk metal lainnya.

Kekreatifan Nuno dalam menciptakan teknik permainan baru telah dikenal sejak album pertama dan kedua group bandnya Extreme yaitu: “Extreme” dan “Pornograffitti”. Tidak heran Nuno dinobatkan menjadi “Best New Talent” (pendatang baru terbaik) begitu Extreme meluncurkan album keduanya “Pornograffitti”.

Sesuai dengan perkataan Nuno sendiri di interview-interviewnya bahwa cita-cita Nuno adalah menulis album berwarna funk seperti Pearl Jam, Nirvana dan sejenisnya. Oleh karena itu jika Anda ingin mendengarkan kepiawaian Nuno sebagai shredder, maka kami rekomendasikan Anda mendengarkan album Extreme: “Pornograffitti”.

Album pertama “Extreme” dan album ketiga “Three Side Story” juga tidak kalah bagusnya. Justru album solo Nuno sendiri dan band barunya Mourning Widows, tidak menampilkan skill dari permainan Nuno sendiri. Bubarnya Extreme cukup mengecewakan penggemar Nuno.

Pada tahun 1982 Nuno pertama kalinya bertemu dengan vokalis Extreme: Gary Cherone. Ini merupakan awal dari band Extreme tsb. 2 tahun kemudian (1984) Nuno meninggalkan sekolahnya dan konsentrasi dalam melatih permainan gitarnya. Nuno melihat drummer Extreme: Mike Mangini di sebuah club di dalam band tribute Van Halen, ketika band-band lain sedang istirahat, Mike memainkan solo drum yang luar biasa.

1985 Nuno bertemu dengan bassist Extreme: Pat Badger yang bekerja di toko gitar Jim Mouradian di Winchester di mana Nuno selalu memodifikasi gitarnya di sana. Nama band mereka pertama kali dinamakan “The Dream” sebelum menggunakan nama “Extreme” dan menghasilkan lagu “Mutha” yang berhasil menerobos jajaran lagu di MTV. Tak lama kemudian nama band mereka diganti menjadi “Extreme” dan tampil di Festival Mare de Agosto (Santa Maria) pada tahun 1986.

Pada tahun 1987 Extreme memenangkan “Outstanding Hard Rock Act” pada tahun pertama Boston Music Awards. Mereka juga memenangkan kontes MTV video, yang ditonton juga oleh perusahaan rekaman A&M A&R scout. Pada bulan September mereka mendapat kabar baik dari A&M record untuk mulai rekaman.

Pada tahun 1989 mereka kembali disebut sebagai “Rising Star” di Boston Music Awards. Tak lama kemudian album debut mereka direlease, tetapi tidak banyak mendapat perhatian selain menjadi album terlaris minggu pertama di Boston, mencapai urutan ke 80 di US chart dan terjual 300.000 copy. “Kid Ego” menjadi single pertama mereka dan kemudian “Little Girls” dan Mutha (Don’t Wanna Go To School Today).

Guitar Magazines menobatkan Nuno sebagai “the next Eddie Van Halen”! Extreme tour ke Amerika Utara dan Jepang. Lagu “Play With Me” menjadi soundtrack film “Bill and Ted’s Excellent Adventure”. Kemudian Nuno mengisi ritem gitar di lagu Janet Jackson “Black Cat”.

Pada tahun 1990 Extreme merekam album keduanya “Pornograffitti” di Scream Studio (LA). Guitar magazine memberikan 6 halaman khusus untuk Nuno. Lagu Decadence Dance, Get The Funk Out direlease, tetapi tidak banyak yang terjadi.

Pada bulan Desember perusahaan gitar Washburn membuatkan gitar N4 Nuno Bettencourt Signature Series, sampai saat ini N4 membuktikan kerberhasilan penjualan gitar Nuno.

Awal kesuksesan Nuno terjadi pada bulan June 1991 ketika lagu “More Than Word” menjadi hit nomor 1 di USA dan luar negeri termasuk Israel, Belanda, dll. Nuno juga mengisi dan menjadi cover untuk video Hot Guitarist Video Magazine Premiere Volume (December ‘92).

Pada bulan Oktober Nuno terpilih sebagai Rocker Terseksi di majalah Playgirl dan juga memenangkan “Top of the Rock”, “Songwriter of the Year”, “Solo of the Year” (Flight of the Wounded Bumblebee), dan “Guitar LP of the Year” di majalah gitar “Guitar For The Practicing Musician”

Selanjutnya Extreme merelease album-album berikutnya: “III Sides”, “Waiting For The Punchline” dan kemudian meninggalkan Extreme, merelease album solonya dan membentuk band barunya “Mourning Widows”.

Penggemar shredder boleh kecewa dengan keluarnya Nuno dari Extreme karena album-album berikutnya Nuno semuanya berwarna funk murni, tidak terdengar lagi permainan gitar yang menampilkan skill dari Nuno.

8. Eddie van Halen (“Pelopor teknik two handed tapping”)

Sebelum era permainan gitar shredd dipopulerkan oleh Yngwie Malmsteen pada tahun 1984, 6 tahun sebelumnya Eddie Van Halen telah lebih dulu sukses menggemparkan dunia musik. Teknik two handed tapping atau yang biasa disebut tapping saja telah berhasil secara mutlak meracuni lebih dari separuh gitaris rock yang ada di Amerika. Bukan hanya teknik tapping saja, ia juga mempopulerkan gaya permainan gitar hard rock yang sangat berbeda dari kebanyakan gitaris rock yang cukup kental permainan bluesnya. Solo gitarnya di tembang Eruption yang terdapat dalam album debut grupnya Van Halen secara mengejutkan menjadi perbincangan utama gitaris-gitaris rock dimasa itu.

Eddie Van Halen atau biasa disebut dengan panggilan singkat EVH, merupakan seorang imigran dari Belanda. Ia dan keluarganya pindah ke Amerika sekitar tahun 60an. Awalnya lebih dulu mempelajari piano dan kemudian sedikit konsentrasi di drum. Sedangkan kakaknya, Alex Van Halen malah mempelajari gitar.

Diam-diam mereka berdua saling mencuri kesempatan mempelajari instrumen yang bukan miliknya. Alex belajar drum, EVH belajar gitar. Ternyata malah keduanya sepakat bertukar alat musik. Jadilah kemudian EVH menekuni gitar.

Pada saat mulai belajar gitar, ia cukup terpengaruh dengan permainan dari Eric Clapton dan Jimmy Page. Kemudian mereka membentuk band bernama Mammoth yang akhirnya berganti menjadi Van Halen dengan masuknya Michael Anthony pada bass, dan David Lee Roth pada vocal. Band ini terbentuk secara resmi tahun 1974.

Album Van Halen yang dirilis tahun 1978 berhasil menembus charts Billboard sampai posisi 15 dan berhasil terjual sebanyak 2 juta keping yang salah satu menjadi penyebabnya adalah solo gitar EVH di lagu instrumental, Eruption.

Nama Eddie Van Halen langsung berkibar karena ia berhasil mempopulerkan teknik tapping. Meski kontribusi dari David Lee Roth sebagai vocalis yang atraktif dan fenomenal juga tak bisa dipandang sebelah mata, namun bisa dibilang nama EVH lebih menjual. Namanya menjadi perbincangan dan berkali-kali meraih penghargaan sebagai Guitarist of The Year oleh majalah-majalah.

Selain teknik tapping yang menjadi trademarknya, EVH juga dikenal dengan senyumnya yang selalu ia tampilkan dalam segala kondisi. Tak heran gitaris-gitaris muda di Amerika begitu menghormatinya. EVH kemudian membuat penampilan gitar Fender Stratocasternya menjadi berbeda. Body berwarna merah dengan garis-garis putih menjadi salah satu nilai jualnya.

Album berikutnya dimasa David Lee Roth menjadi vocalis yang dirilis adalah Van Halen II (1979) dan Woman and Children First (1980), Fair Warning (1981), Diver Down (1982), dan sebuah album yang merupakan salah satu album masterpiece dari Van Halen yaitu 1984 yang dirilis tahun 1984.

Di album 1984, EVH menampilkan permainan keyboard yang menawan. Malahan masyarakat awam lebih mengenal suara dan permainan keyboardnya di lagu Jump ketimbang teknik-teknik gitarnya. Lagu Jump berhasil menjadi juara 1 di charts Billboard.

Pada tahun 1983, sebelum album 1984 dirilis. EVH sempat bekerjasama dengan King of Pop, Michael Jackson. EVH ikut serta dalam proyek album Thriller yang nantinya terjual lebih dari 20 juta copy. Ia memoles lagu yang berjudul Beat It menjadi sedikit berwarna rock dan dance. Tak lupa juga EVH menampilkan solo gitar dan teknik tappingnya yang merajalela di lagu tersebut. Munculnya EVH di lagu tersebut mendapat respon yang luar biasa dengan perolehan menduduki puncak charts Billboard selama berminggu-minggu.

Tahun 1986 Van Halen mengalami perubahan formasi dengan mundurnya David Lee Roth dan digantikan oleh Sammy Haggar. Meskipun begitu, EVH tetap mampu menampilkan permainan-permainan gitar terbaiknya.

Album-album berikutnya seperti 5150 (1986), OU812 (1988), For Unlwaful Carnal Knowledge (1991), dan Balance (1995) masih cukup mampu memperpanjang nafas Van Halen dalam dunia rekaman. Tak lama kemudian kembali Van Halen berganti vocalis dengan masuknya Gary Cherone (ex Extreme).

Van Halen semasa Gary Cherone oleh banyak pihak dianggap sebagai era terburuk dengan ditandai kurang suksesnya album Van Halen III (1998). Tahun 2001 EVH terkena kanker mulut, ia terpaksa absen selama sekitar 2 tahun untuk proses penyembuhan.

9. Michael Schenker (“Salah Satu Pelopor Gitar Hero di Jerman”)

Jika diadakan polling mengenai “10 gitaris terbaik Jerman sepanjang masa”, saya yakin kalau nama Michael Schenker akan termasuk salah satu diantaranya. Bahkan kalaupun disuruh memilih 5 saja, saya tetap yakin namanya akan tetap masuk. Tidak aneh bila melihat sepak terjangnya mengangkat nama Jerman sebagai negara yang memiliki gitaris kelas satu dan mampu bersaing dengan gitaris handal dari Inggris dan Amerika.

Michael dan saudaranya, Rudolf memiliki hobi yang sama, yaitu bermain gitar. Michael mendapat inspirasi dalam bermusik dari 2 grup band yang cukup populer di masa itu, Wishbone Ash dan Mountain. Ia juga sempat bekerja sambilan sebagai transcriber lagu.

Tahun 70-an awal, Michael bergabung dengan band milik Rudolf, The Scorpions. Kebetulan permainan Michael cukup menonjol, namun saat band ini merilis album debutnya, Lonesome Crow pada tahun 1972 album itu kurang mendapat respon yang positif. Satu hal yang perlu dicatat, saat itu usia Michael baru 17 tahun.

Setelah mengikuti tur promo bersama Scorpions, band lain bernama UFO tertarik dengan talentanya. Kemudian Michael meninggalkan Scorpions dan bergabung dengan UFO yang baru saja ditinggal gitarisnya, Michael Bolton (tapi bukan Michael Bolton penyanyi).

Bersama UFO, Michael sempat merilis beberapa album, diantaranya Phenomenon (1974), Force It (1975), No Heavy Petting (1976), Lights Out (1977), Obsession (1978). Pada era Michael Schenker inilah nama UFO bisa berkibar dan mendapat pendengar yang lebih luas sampai ke pasar Amerika.

Permainan gitarnya menunjukkannya sebagai seorang musisi yang berpengaruh. Ia juga terkenal dengan sosoknya yang menenteng Gibson Flying-V dengan body yang dimodif pada bagian catnya, setengah hitam, setengah putih.

Akan tetapi setelah album merilis album Obsession, Michael dikeluarkan dari UFO karena kecanduan alkohol dan kembali ke Scorpions. Ia menggantikan Uli John Roth yang sebelumnya menggantikan posisinya saat ia keluar dari Scorpions dulu.

Sekembalinya ke Scorpions, ia ikut merilis album Lovedrive pada tahun 1979. Namun sayang, ketika sedang menjalani tur pertamanya di Amerika, Michael lagi-lagi absen hadir karena kecanduan alkohol. Album tersebut tidak diterima di Amerika terutama karena masalah cover albumnya. Michael pun digantikan oleh Matthias Jabs yang akhirnya menjadi gitaris permanen Scorpions sampai saat ini.

Setelah keluar dari Scorpions, ia sempat diangkat sebagai gitaris pengganti sementara Joe Perry di Aerosmith. Setelah itu Michael memutuskan untuk bersolo karir dengan membentuk Michael Schenker Group atau biasa disebut MSG.

Di band ini Michael bertindak sebagai konseptor dan gitaris. Sedangkan untuk vocal diisi oleh Robin McAuley. Album-album yang dirilis adalah Michael Schenker Group (1980), MSG (1981), Assault Attack and One Night at Budokan (1982). Album-album tersebut cukup berkarakter hingga membuat Ozzy Osbourne sempat menawarinya menjadi gitaris Ozzy setelah kematian Randy Rhoads.

Tahun awal-awal 90an, Michael juga sempat bergabung dengan Ratt untuk bermain unplugged MTV. Selain itu ia pernah tampil dalam kolaborasi Contraband bersama personel-personel dari band-band rock saat itu seperti Shark Island, Vixen, Ratt, dan L.A. Guns). Kemudian ia merilis album Thank You (1993), dan Unforgiven (1999). Tahun 1995, Michael kembali bergabung dengan UFO, dan merilis album Walk On Water dan kemudian tahun 2002 merilis album Sharks.

Dengan suara gitar yang khas dan riff-riff gitar yang catchy sebagai kontribusinya pada Queen, Brian May menjadi salah satu dari sekian musisi yang berbakat dan memberikan pengaruh pada tahun 70-an.

Ia adalah anak seorang tukang servis elektronik dan musisi. Ia ternyata ikut mewarisi bakat ayahnya dalam bidang menyolder dan musik. Namun ia sanggup menyeimbangkan ketertarikannya akan teknologi dan musisi dan kemudian melanjutkannya untuk meraih gelar di bidang Fisika. Di saat senggangnya ia menyempatkan diri membuat gitar dibantu oleh ayahnya. Gitar buatannya ini yang kemudian menjadi trade-mark Brian May di setiap penampilannya.

Saat masih sekolah ia membentuk band pertamanya, 1984, yang merupakan sebuah band instrumental. Band mereka manggung di sekitar kota London dan membuka pertunjukan artis/band legendaris seperti Traffic, Jimmi Hendrix, Pink Floyd dan Tyrannosaurus Rex (nantinya dikenal sebagai T-Rex). Pada tahun 1968, ia meninggalkan bandnya untuk memfokuskan diri pada studinya di Imperial College.

Saat kuliah, May sering nongkrong bareng Roger Taylor dan kemudian membentuk band hard rock trio bernama Smile. Ia malah juga meneruskan pendidikannya setingkat S2 pada jurusan matematika dan ilmu pengetahuan, tapi kemudian malah memutuskan untuk lebih fokus pada musik secara penuh.

Band Smile menandatangani kontrak dengan Mercury Records dan merilis satu single yang tidak meraih sukses. Kemudian mereka menambahkan Freddy Mercury pada posisi vokal dan merubah nama band mereka menjadi Queen.

Setelah bekerja dengan beberapa bassist, akhirnya mereka menemukan dan merekrut John Deacon pada tahun 1971. Queen kemudian menandatangani kontrak dengan EMI dan merilis debut albumnya (Queen) pada tahun 1973 dengan kekuatan utama album mereka: kombinasi vokal opera Freddie Mercury dan riff-riff keren Brian May.

Brian May bersama Queen terus berekperimen dengan mengembangkan sound mereka. Albun A Night at the Opera dirilis tahun 1975 dan menelurkan lagu hit “Bohemian Rhapsody”, yang memperdengarkan kemampuan musikal dan kehebatan mereka sebagai pengarang lagu.

Kedua album mereka selanjutnya A Day at the Races pada tahun 1976 dan News of the World pada tahun 1977 juga meraih sukses besar di radio maupun di toko musik dengan hit-hit mereka seperti “We Will Rock You” dan bahkan “We Are The Champion” dari album News of the World malah digunakan menjadi lagu kemenangan di lomba olahraga di seluruh dunia sampai sekarang.

Yang menarik adalah, salah satu lagu dari album News, “It’s Late” adalah lagu dimana Brian May menggunakan two-handed tapping dan hammer-on saat solo gitar dan setahun kemudian baru Eddie Van Halen terkenal dengan two-handed tapping gayanya sendiri. May menyebutkan bahwa tehnik tapping yang ia gunakan diconteknya dari seorang gitaris band club di daerah Texas. Menurut gitaris band tersebut malah Billy Gibbons (ZZ Top) yang pertama kali menggunakannya dan ia hanya menconteknya.

Setelah Freddie Mercury wafat di tahun 1991, Queen secara resmi bubar. Hanya pada event-event khusus seperti “Concert for Life tribute to Mercury” di tahun 1992 (menggalang dana untuk Mercury Phoenix Trust, dibentuk untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya AIDS).

Brian May kemudian lebih fokus bersolo karir, merilis Back to the Light pada tahun 1993. Setahun kemudian ia merilis Live at Brixton Academy, yang isinya adalah gabungan dari lagu-lagu solo karirnya dan dari koleksi lagu Queen. Pada tahun 1998 ia merilis album berjudul Another World dimana Jeff Beck ikut mengisi gitar pada lagu “The Guv’nor”.

Posted in Musik | 12 Comments »

Dadang R. Gumilang (Scooter Owner Groups)

Posted by codoix on August 3, 2008

Klub motor tak identik dengan kekerasan

Dibanding jenis sepeda motor lainnya, skuter merupakan salah satu sepeda motor yang usianya paling tua. Kendati demikian, penggemar kendaraan roda dua yang satu ini ternyata sangat banyak.

Tak hanya orang tua generasi ‘TVRI’, anak muda generasi ‘MTV’ juga banyak menjadi penggemar ‘kuda besi’ yang satu ini.

Di berbagai daerah akhir-akhir ini bermunculan klub atau perkumpulan para pemilik dan penggemar skuter. Salah satunya yang terbesar dan memiliki anggota terbanyak adalah Skuter Owner Groups (SOG) Indonesia.

Awal Juli lalu saya berkesempatan menghadiri peringatan ulang tahun SOG Indonesia ke-10 yang digelar di GOR Saparua Bandung. Ribuan pemilik dan penggemar skuter se-Indonesia, bahkan dari mancanegara berkumpul di tempat tersebut.

Di antara skuter mania tersebut, terlihat seorang pria berpenampilan layaknya rider lainnya, sibuk mengatur kedatangan para tamu. Dialah Dadang R. Gumilang yang akrab dipanggil Kang Gilang, Ketua harian SOG Indonesia yang juga menjadi Ketua Panitia HUT SOG Indonesia ke-10.

Lalu bagaimana kisah bapak dua anak ini hingga bisa menjadi seorang pencinta skuter?

“Perkenalan saya dengan skuter awalnya dari orang tua,” ujar Kang Gilang bercerita.

Dia mengatakan, saat masih bocah, ayahnya memiliki sebuah skuter Piaggio Super buatan tahun 1966. “Dari sanalah kecintaan terhadap skuter bermula. Karena sering mengendarai skuter tersebut, akhirnya saya jatuh cinta hingga sekarang,” ujar pria asli Bandung tersebut.

Gilang mengatakan, kebanyakan penggemar skuter juga memiliki kisah seperti dirinya. “Apalagi anak-anak muda sekarang. Biasanya mereka menyukai skuter karena dikenalkan oleh orang tuanya. Soalnya sekarang kan nggak ada lagi yang memproduksi skuter,” katanya.

Mengendarai skuter bagi Gilang adalah sebuah kenikmatan yang tidak dapat digantikan dengan kenikmatan lainnya. “Apalagi kalau kita bisa touring rame-rame dengan teman-teman. Rasanya asyik banget,” ujarnya.

Saat ini Gilang mengaku memiliki skuter Congo buatan tahun 1963 yang dibelinya pada tahun 1985 silam.

Kendati memiliki kecintaan mendalam kepada skuter kesayangannya, Gilang mengaku tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai kepala keluarga.

“Skuter itu kan hobi, tapi keluarga tetap yang utama,” ujar pria yang tinggal di wilayah Lembang itu.

Sehari-harinya Gilang mengaku memiliki usaha garmen dan penyewaan lapangan futsal untuk menafkahi keluarganya. “Kalaupun saya ikut touring dengan teman-teman, saya pasti ngomong dulu dengan keluarga,” katanya.

Lalu apa saja yang sudah didapatkan sejak bergabung menjadi anggota SOG? Menurut Gilang, SOG bukanlah sebuah kelompok eksklusif yang menutup diri pada orang-orang di luarnya.

“Mungkin orang melihat bahwa klub atau kelompok motor itu adalah kelompok yang tertutup. Tapi SOG tidaklah demikian. SOG selalu membuka diri dan ingin bermitra dengan yang lain,” ujarnya.

Pandangan bahwa klub motor atau geng motor yang akrab dengan budaya kekerasan juga ditepis oleh Gilang.

“Kami bahkan selalu mengampanyekan kepada para anggota untuk selalu berkendara dengan aman atau safety riding, serta mematuhi peraturan lalu lintas,’ katanya.

Gilang mengaku kelompoknya sering bermitra dengan kepolisian mengadakan kerja bakti di lingkungan masyarakat.

Organisasi SOG Indonesia sendiri memiliki sejarah sejak 18 Maret 1995 dengan berdirinya SOG Bandung yang didirikan oleh sekitar 10 orang founding father di Polwiltabes Bandung.

“Lalu pada 10 Mei 1998 di Hotel Propen Bandung resmi berdiri SOG Indonesia,” tuturnya.

Saat ini SOG Indonesia memiliki anggota mencapai 8.000 anggota yang tersebar di 31 cabang SOG se-Indonesia dan tiga chapter luar negeri, yakni Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

“Di Bandung sendiri kami memiliki anggota sekitar 3.000 pemilik skuter,” katanya.

Anggota SOG, menurut Gilang, tidak hanya berkumpul saat melakukan touring. “Setiap harinya kami juga sering ngumpul. Kami memiliki bengkel khusus tempat bertemunya anggota-anggota SOG dan di sana sering melakukan diskusi masalah skuter,” ujarnya.

Menjadi seorang anggota SOG Indonesia, menurut Gilang tidaklah sulit. “Syaratnya gampang. Yang penting memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), memiliki skuter, serta mau mematuhi aturan organisasi,” katanya.

Biasanya setiap calon anggota SOG diajak dulu untuk touring bersama anggota lainnya ke berbagai daerah.

“Dari sana para calon anggota bisa mengenal lebih dalam mengenai SOG. Jika mereka tertarik silahkan bergabung, jika tidak maka kami tidak akan memaksa,” ujarnya.

Saat ini anggota termuda SOG berusia sekitar 17 tahun dan anggota tertua sekitar 76 tahun. “Sama sekali tidak ada pembatasan usia untuk bergabung dalam organisasi ini,” katanya lagi.

Biodata
Nama : Dadang R. Gumilang
TTL: Bandung/ 9 Maret 1968
Istri : Siti
Anak : Alvina Damayanti (14 tahun)
Aldi Surya (10 tahun)

Pendidikan : Sarjana Perhotelen STIP Bandung (1990)

Organisasi : SOG Indonesia (Ketua Harian Periode 2008 – 2011)
Komunitas Frekuensi Mang Layang Bandung (anggota)
Jenis Skuter : Congo (buatan 1963)
Pekerjaan    : Direktur Pemasaran PT Lambada Bandung

Posted in Sosok | 4 Comments »

Rektor UI pun marah betulan

Posted by codoix on August 3, 2008

Gelar seabrek di depan dan dibelakang nama belum menjamin seseorang memiliki kedewasaan berpikir. Jika sudah emosi, orang-orang sering melupakan akal sehat.

Bekerja sebagai pemburu berita banyak sudah banyak suka duka yang saya alami. Bertemu dengan orang yang marah-marah karena berita yang ditulis, itu sudah biasa. Tidak semua orang suka dengan yang kita publikasikan.

Namun bertemu dengan orang sekelas Rektor Universitas Indonesia yang bergelar Professor doktor yang tidak bisa menahan emosi karena berita yang ada selama ini, mungkin kejadian yang cukup unik.

Pekan lalu (27/7) Rektor Universitas Indonesia (UI), Gumilar R. Somantri meresmikan jalur sepeda sepanjang 10 km dari rencana pembangunan 20 km di Kampus UI Depok.

Peresmian jalur sepeda ini merupakan bagian dari rencana UI menghubungkan antara satu pusat kegiatan dengan kegiatan lain di kampus tersebut dengan jalur sepeda.

Berikut hasil wawancara saya dengan Rektor Gumilar mengenai jalur sepeda tersebut :

Berapa panjang jalur sepeda yang sudah dibangun di UI?

Jalur sepeda yang akan dibangun nantinya memiliki panjang total sekitar 20 km, menghubungkan pusat-pusat kegiatan di UI seperti fakultas, rektorat, mesjid, asrama, dan berbagai pusat kegiatan lain secara interconnected atau saling terhubung.

Kami baru menyelesaikan pembangunan jalur sepeda itu sekitar 50% atau baru 10 km, namun telah difungsikan. Bersepeda itu bukan semata-mata orang menggunakan sepeda, tapi kultur bersepeda itu yang paling penting.

Oleh karena itu kami tidak hanya menyediakan jalur sepeda, tapi juga sepedanya, sistem, pengawasan, hingga pengaturan untuk disiplin berlalu lintas menggunakan sepeda.

Kami mengarapkan dalam jangka waktu tiga tahun tertanam kultur bersepeda di kampus UI. Dan selama ini animonya memang besar.

Setiap hari kalau disaksikan sekarang para mahasiswa menggunakan sepeda bisa lima orang atau enam orang saling berpapasan. Dan persediaan sepeda di hampir semua pos juga sering habis karena banyak yang menggunakan.

Berapa banyak sepeda yang sudah tersedia?

Yang sudah tersedia sekitar 300 sepeda. Namun jumlahnya akan terus ditingkatkan bekerjasama dengan Polygon. Target nantinya bisa tersedia sekitar 1.000 hingga 1.500 sepeda di UI.

Di masa mendatang kami mengharapkan para mahasiswa, dosen, dan karyawan tidak menggunakan mobil pribadi di dalam kampus. Tapi ini tidak dalam jangka pendek. Butuh tiga tahun atau empat tahun ke depan.

Kami harus membangun dulu semacam tempat parkir yang terintegrasi di pinggir kampus. Sehingga saat mahasiswa atau dosen datang ke kampus, mobil mereka ditaruh di sana, lalu mereka mengambil sepeda.

Namun kami juga menyadari tidak semua orang pandai dan hobi bersepeda. Karena itu nantinya juga akan disediakan bis. Sistem bis di dalam kampus ini akan diterapkan dengan cara outsourcing.

Artinya pihak swasta yang akan mengelola dan UI mengontrak mereka, sehingga nantinya kami juga bisa menuntut pelayanan dengan kualitas tinggi di dalam implementasi pelayanan sistem bis di dalam kampus.

Misalnya bis harus ber AC, sopirnya pakai jas, sopan, aman, pintunya harus tertutup, berhenti tepat pada waktunya, ada jadwal tertentu.

Pada prinsipinya sistem bis ini juga bisa beroperasi hingga jam 21.00. Dengan demikian ada bis, ada sepeda, dan jalan kaki. Ini akan jauh menghemat dalam hal penggunaan BBM dan mereduksi jumlah emisi yang ada di kampus.

Sekaligus memang kami memang mengharapkan civitas akademika bisa hidup lebih sehat. Dan UI secara konkrit memberikan contoh dan preseden bagaimana berhadapan dengan problema lingkungan yang mendunia saat ini seperti global warming.

Artinya nanti akan ada pembatasan jumlah kendaraan yang akan masuk ke UI?

Iya, tapi tidak dalam jangka waktu pendek. Mungkin secara bertahap dalam tiga tahun ke depan setelah tempat parkir terintegrasi itu dibangun. Namun tamu tentu diperkenankan membawa mobil ke dalam kampus, dan para guru besar terutama yang sudah sepuh akan diberi dispensasi bawa mobil.

Tapi mahasiswa, dosen yang muda, serta karyawan diminta naik bis, sepeda, atau berjalan kaki. Lingkungan kampus akan ditata terus lebih cantik, lebih hijau, dan lebih mendukung dibangunnya tradisi akademik yang kuat.

Bagaimana dengan orang luar yang akan masuk ke kampus UI? Apakah mereka juga diperbolehkan menggunakan sepeda yang tersedia?

Kita mungkin akan memungut biaya. Namun demikian, biaya yang dipungut hanya untuk perawatan, bukan keuntungan. Atau bisa juga semua dibebaskan menggunakan sepeda yang tersedia.

Untuk masyarakat yang tinggal di sekitar UI bagaimana?

Untuk masyarakat sekitar UI kami menghimbau mereka untuk tidak menggunakan sepeda motor di dalam kampus karena membuat lingkungan kampus polusi, berisik, tidak kondusif dan tidak mendukung kegiatan riset di dalam kampus.

Lingkungan kampus itu harus dijaga supaya tetap tenang. Kami juga menyarankan mereka untuk berjalan kaki atau naik sepeda.

Tiga tahun ke depan tidak ada lagi ojek di dalam kampus?

Sebaiknya ojek itu hanya ada dari tempat kost mahasiswa ke dalam kampus. Tidak beroperasi di dalam kampus. Kalaupun ada ojek di kampus, sebaiknya hanya ojek sepeda.

Dari tempat kost ke pintu masuk boleh ojek motor, tapi di dalam kampus hanya ojek sepeda. Dan itupun mereka harus pakai seragam.

Artinya UI dalam dalam 3-4 tahun ke depan, UI akan melarang tukang ojek masuk ke kampus?

Kami tidak melarang, namun hanya ingin agar lingkungan di kampus UI bisa terjaga. Jadi media jangan salah mengartikan. Kamu dari media mana sih?

Dari Monitor Depok.

Nah, apalagi Monitor Depok. Koran ini sering membuat berita yang mengadu domba. Saya sudah diperingatkan oleh Walikota Depok agar berhati-hati jika wawancara dengan Monitor Depok. Katanya wartawan Monitor Depok itu sering membikin berita yang berbeda dengan hasil wawancara.

Kamu jangan seperti itu. Wartawan itu harus membuat berita yang mencerahkan dan menenangkan masyarakat. Jangan hanya gara-gara ingin menaikkan oplah, berita yang kamu bikin malah jadi berita berita murahan. Koran kamu hanya akan jadi koran kuning dan murahan.

Saya juga dosen para wartawan, walaupun dari jurusan Sosiologi, tapi saya juga mengajar komunikasi. Makanya saat tadi dicecar pertanyaan mengenai tukang ojek saya jadi curiga.

Dulu saat pintu UI didobrak, semuanya juga karena berita di Monitor Depok. Saya nggak mau lagi hal itu terulang. Jika berita yang kamu bikin berbeda dengan apa yang saya katakan, saya akan mencari kamu. UI juga tidak akan pernah lagi melayani siapapun wartawan Monitor Depok.

Posted in Sosok | Leave a Comment »

Andrinof A Chaniago, Staf Pengajar FISIP UI

Posted by codoix on August 3, 2008

Sebagai perguruan tinggi di Depok, apa yang sudah diberikan Universitas Indonesia (UI) kepada Depok sebagai home ground nya? Puluhan bahkan ratusan pemikir lahir dari kampus yang jadi cikal bakal semua perjuangan di negeri ini, seharusnya memang bisa memberikan kontribusi terhadap segala permasalahan yang dihadapi Depok saat ini.

Tapi potensi itu belum diaktualisasi optimal. Bagi Depok, UI baru sekadar dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi dan anjangsana warga Depok saat hari libur. Warga Depok dan sekitarnya memanfaatkan areal kampus yang luas dan rindang untuk bersantai.

Tapi, potensi pemikiran itu, belum dimaksimalkan untuk dimanfaatkan Depok. Pemkot Depok seyogianya lebih proaktif.

Poin-poin pemikiran itu disampaikan Andrinof Chaniago, seorang pengamat politik nasional, staf pengajar Ilmu Politik FISIP UI, tinggal di Depok.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berbincang dengan Andrinof di sebuah cafe yang asri di Kampus FISIP UI. Bagi yang doyan sama hal yang berbau politik, mungkin sudah tidak asing lagi dengan orias yang satu ini. Namanya sering muncul di televisi maupun media cetak.

Saya beruntung bisa bertukar pikiran dengan dosen yang tinggal di Depok Utara ini. Karena tinggal di Depok, dan kebetulan saya bertugas di media lokal Depok, akhirnya diskusi tidak jauh dari persoalan lokal kota ini, terutama peran UI sebagai perguruan tinggi yang bermarkas di Depok dalam hal pembangunan kota satelit Jakarta ini. Berikut intisarinya :

“Peran UI yang konkret dan sudah jelas, sebagai taman kota, taman rekreasi, dan tempat resapan air warga Depok,” tandas pengamat yang laris di pelbagai media dan TV itu.

Namun, menurut dia, masih banyak potensi UI yang belum dioptimalkan. Tentunya, yang terkait dengan ilmu pengetahuan.

“Pemkot Depok mestinya proaktif, memanfaatan peran ini,” kata Andrinof saat ditemui di Gedung Koentjaraningrat, Kampus FISIP UI.

Tanpa bermaksud sok gengsi, Andrinof menjelaskan bahwa jika UI yang menawarkan bantuan, bisa berkesan seakan-akan merendahkan nilai ilmu pengetahuan yang diberikan, itu sendiri. Padahal, katanya, ilmu pengetahuan itu sesuatu yang sangat berharga.

UI terbuka

Secara prinsip UI amat terbuka. Oleh karena Andrinof menyarankan agar Pemkot Depok lebih proaktif dalam menyampaikan segala permasalahan yang dihadapi. Sehingga dengan demikian, UI punya dasar untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

Walau dikenal sebagai pengamat politik dan kebijakan publik tingkat nasional, Andrinof ternyata tidak pernah melupakan persoalan yang dihadapi kota tempat tinggalnya.

Hingga sejumlah kalangan menilainya ia intelektual yang membumi, biar sering bicara masalah nasional, ia tak segan memberikan masukan penting ke daerahnya.

Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini selalu menyimak semua dinamika yang dihadapi Depok, terutama hal-hal yang berkaitan dengan politik dan pembangunan.

Berbicara dengan Andrinof seakan tidak ada bosannya. Pengetahuan yang dimiliki pria yang pernah mengenyam pendidikan di The National Development Courses dari Fu Hsing Kang College, Taipei, Taiwan itu sangat luas, sehingga membuka wawasan teman bicaranya.

Salah satu yang disorot Andrinof mengenai persoalan Depok adalah pengelolaan Sungai Ciliwung. Menurut dia, pengelolaanya semestinya bisa lebih baik, dengan mempedulikan publik.

Dia mencontohkan kawasan Ciliwung di Komplek Pesona Khayangan. Apa yang terjadi? Ia pun menjelaskan sempadan Sungai Ciliwung di tempat itu seakan-akan tertutup untuk akses masyarakat umum.

“Harusnya di sekitar sempadan sungai itu dibikin areal khusus untuk kepentingan publik, misalnya taman atau jogging track. Sebab wilayah itu bukan wilayah privat, tapi milik umum. Jadi akses untuk masyarakat umum juga harus diberikan,” katanya.

Bisa optimal

Melalui cara-cara itu, katanya, diyakini pemeliharaan Sungai Ciliwung bisa optimal, selain itu pendayagunaan lahan juga bisa lebih bermakna…

“Depok itu kekurangan areal publik…” kata Andrinof.

Pemkot sebagai pemilik power formal seyogianya bisa tegas mengambil sikap, sehingga kepentingan publik bisa lebih terlayani…” Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) memang termasuk wilayah strategis provinsi. Namun untuk ruas yang melintasi Depok, itu harus difungsikan secara efektif bagi publik. Kewenangan itu dimiliki oleh Pemkot.

Persoalannya, apakah detail Rencana Tata Ruang Wilayah masalah itu mendapatkan perhatian lebih apa tidak…

Ketua III Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) itu juga menyoroti Jalan Margonda—yang disebutnya kawasan salah kelola.

“Selama ini, Margonda hanya dijadikan kawasan bisnis dan tujuan-tujuan sempit, sehingga untuk menatanya menjadi agak sulit. Tapi itu tetap harus diperbaiki,” paparnya.

Jembatan penyeberangan

Apa yang semetinya dilakukan di Margonda? “Jangka pendek harus ada jembatan penyeberangan,” katanya tegas. Tapi untuk jangka panjang, menurut dia, mesti dilengkapi dengan under pass.

Untung menurut dia, Polres Depok amat antisipatif, di tengah kesemrawutan Depok.

“Jalur khusus (kanalisasi) angkot, atau dikenal umum Angkotway itu, kemacetan bisa dikurangi…” katanya. Apalagi, katanya, jam kerja polisi diperpanjang demi layanan publik…

Di sisi lain, Andrinof tetap memandang penting transportasi umum, namun Pemkot harus mulai tegas untuk tak mengeluarkan izin trayek baru…

“Angkot penting, tapi saat ini angkot jadi sumber kemacetan utama di Depok,” katanya. Oleh karena itu tak usaha dipolitisasi bahwa pengeluaran izin trayek untuk lapangan kerja…

Oleh karena itu, katanya, pejabatnya mesti tegas, mesti berorientasi kepentingan publik. Mesti tak mikir urusannya sendiri. “Jadi meja birokrasi harus tegas soal angkot,” tandasnya.

Bahkan, katanya, Walikota harus tegas, hentikan pemberian izin angkot. “Kemudian tertibkan semua (angkot) yang ilegal tersebut,” kata Andrinof.

HISTOGRAFI :
Nama : Andrinof A. Chaniago
Tempat / Tanggal Lahir : Padang / 3 November 1962
Pendidikan :
- S1 Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia
- S2 Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia
- Diploma The National Development Courses dari Fu Hsing Kang College, Taipei, Taiwan
Kuliah Singkat (Short Courses) :
- Economic Globalization, di Wuhan, China, 2007
- Taiwan Economic Development and Planning, di Taipei, Taiwan, 2006
- Sustainable Urban Development di Touyuan City, Taiwan, 2004
- Conflict Mediation, di Oslo dan Troms O, Norwegia, 2003
Karir :
- Pengajar pada Departemen Ilmu Politik FISIP UI
- Pengajar pada Program S2 FISIP UI
- Penulis dan Peneliti Senior The Habibie Center dan Center for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS)
Organisasi :
- Anggota Dewan Redaksi Jurnal Galang, (jurnal pemikiran tentang penggalangan dana sosial atau filantrofi)
- Ketua Asosiasi Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI) untuk Bidang Hukum dan Kebijakan Publik
- Ketua III Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI)
Karya / Buku :
- Buku berjudul, Gagalnya Pembangunan: Kajian Ekonomi Politik Akar Krisis Indonesia (LP3ES, Jakarta, 2001)
- Dan sejumlah tulisan pada buku, jurnal dan media massa.

Posted in Sosok | Leave a Comment »