Codoix's Weblog

Lenong Panmas di ambang kenangan…

Posted by: Dodi Esvandi on: July 20, 2010

Sebagian besar masyarakat zaman dulu alias jadul, boleh jadi cukup akrab dengan kesenian lenong. Pertunjukan seni budaya tradisional itu juga eksis di seputar Kecamatan Pancoran Mas, Depok.

Salah satunya grup lenong Sinar Fajar Pancoran Mas, pimpinan Zaini. Sayangnya grup itu bubar sudah. Para pemainnya pun bertebaran entah ke mana, meski sebagian kerap masih bisa ditemui di beberapa gelintir grup lenong lain yang coba bertahan.

“Kalau kita bicara lenong, semua orang mengatakan itu budaya Betawi. Padahal kebanyakan grup lenong serta pemainnya berasal dan bermukim di Depok,” ujar Zaini kepada penulis beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, saat Depok masih menjadi bagian dari Kabupaten Bogor, perhatian terhadap kesenian lenong sangatlah kurang. Akibatnya banyak seniman lenong yang cari makan ke Jakarta. “Mungkin karena itu lenong lebih dikenal sebagai kesenian Jakarta.”

Ibaratnya, seperti Depok membikinnya, Jakarta menjualnya dengan merk mereka.

Kini, lanjut Zaini, setelah Depok menjadi pemerintahan kota sendiri seharusnya bisa mengangkat kesenian lenong sebagai salah satu simbol budaya Kota Depok. “Biar semua orang juga tahu bahwa lenong itu sebenarnya adalah lenong Depok, bukan lenong Jakarta.”

Sebagai mantan pimpinan grup lenong, Zaini memiliki pengalaman segudang. Dia pernah menjadi juara pertama pemeran pria dalam rangka festival kesenian rakyat se-Jabodetabek di Taman Mini pada 1978. “Namun saat itu saya membawa bendera Jakarta.”

Sekitar tahun 70-an, grup lenong Sinar Fajar mencapai puncak popularitasnya. “Setiap tanggal 17 Agustus sampai akhir bulan, kami selalu kelabakan saking banyaknya tawaran manggung,” kata Zaini.

Namun mulai era 1980-an popularitas itu mulai meredup, karena terkikis budaya yang datang belakangan seperti layar tancap dan organ tunggal.

“Sebenarnya animo masyarakat masih cukup tinggi, namun terkendala tempat, karena lenong itu butuh panggung untuk tampil. Kalaupun orang mau ngundang lenong, mereka nggak punya tempat buat nampilinnya,” ujar Zaini.

Akhirnya satu per satu personil lenongnya hengkang. “Dulu salah satu personil lenong Sinar Fajar adalah Malih Tong-tong. Bahkan saya nikahkan dia dengan keponakan saya. Sekarang dia udah punya grup lenong sendiri yang ada di Ratu Jaya,” tutur Zaini.

Kesenian China

Menurut Zaini, lenong sebenarnya dari kesenian China. “Selain gambang dan kromong, alat musik pengiring lenong itu semuanya berasal dari China seperti teh yan, kong an yan, serta shu kong.”

Selain beberapa alat musik tersebut, lanjut Zaini, masih ada beberapa alat musik lain yang digunakan seperti kecrek, ning-nong, serta kendang.

Ada dua jenis lenong, yaitu Lenong Denes dan Lenong Preman. Dalam lenong denes atau dinas, pemainnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-setting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan.

“Sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan pemain tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari,” tutur Zaini.

Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan. “Lenong Denes umumnya menggunakan bahasa yang halus yaitu bahasa Indonesia yang benar. Sedangkan lenong preman bahasanya lebih urakan.”

Cerita yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.

Zaini menamabahkan awalnya kesenian lenong dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di ruang terbuka tanpa panggung. “Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela.”

Dalam perkembangannya lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. “Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.”

Kini Zaini menyayangkan kurangnya perhatian dan kepedulian Pemkot Depok atas kesenian tradisional lenong. “Mereka menganggap kesenian ini sebagai kesenian kere. Ketika ada maunya baru diperhatikan,” keluhnya.

Menurutnya banyak pelaku kesenian tradisonal yang cemburu atas sikap pemda. Kalau untuk mengundang grup band atau dangdut, mereka rela mengeluarkan duit jutaan rupiah. “Tapi untuk kesenian tradisional seperti lenong paling cuma dikasih uang transport atau uang rokok,” ujarnya.

Zaini pun berharap pemkot menghargai nilai-nilai budaya tradisional. “Kenapa sih tidak dibuatkan gedung kesenian utuk mengembangkan kreatifitas para seniman itu, sehingga mereka juga punya tempat untuk menampilkan sesuatu,” tuturnya menutup obrolan.

2 Responses to "Lenong Panmas di ambang kenangan…"

Mungkin Pemda bingung, Depok ini berkarakter Sunda atau Betawi… mau ngembangkan lenong, tp lokasinya di Jabar… mau ngembangkan jaipong, tp kulturnya Betawi …. he..he..he…

Iya, bisa juga seperti itu Pak. Akhirnya mana kesenian asli Depok jadi nggak ketahuan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


kunjungi : lomba blog depok

Pemilik Blog

Menulis untuk belajar membaca,
dan membacalah supaya tahu...

Kalender

July 2010
M T W T F S S
« Apr   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Statistik Blog

  • 45,681 hits

Arsip

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.