Codoix's Weblog

Mari Elka Pangestu, Dari Jurnalis, Dokter sampai Pembantu Presiden

Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011

Mari Elka Pangestu adalah satu satu menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid I yang tetap dipertahankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di masa pemerintahan keduanya. Di luar kesibukan sebagai Menteri Perdagangan (mendag), ia masih membagi waktunya untuk keluarga. Bagaimana caranya?

Sama sekali tak pernah terpikirkan Mari Elka Pangestu bisa menjadi seorang menteri, bahkan untuk dua periode. Di masa kecilnya, perempuan kelahiran 23 Oktober 1956 ini justru bercita-cita ingin menjadi seorang jurnalis. Itu dilatarbelakangi oleh hobinya yang suka menulis saat masih bocah.

”Dulu saya suka menulis untuk majalah sekolah, suka bikin cerpen, lalu saya jadikan buku. Tentu saja bukan untuk
dijual, tapi saya bagikan kepada keluarga,” ujarnya menceritakan kisah masa kecilnya. Ditemui di ruang kerjanya yang asri dan lega di lantai lima Kementerian Perdagangan di Jalan Ridwan Rais No 5 Jakarta, Mari pun membeberkan obsesinya sejak kecil, hingga kemudian ia banting setir mendalami bidang ekonomi.

Meski ayahnya J. Panglaykim dikenal sebagai ekonom jempolan, namun Mari mengaku awalnya sama sekali tidak tertarik mendalami bidang ekonomi. Setelah sempat bercita-cita menjadi jurnalis, Mari juga sempat berkeinginan menjadi seorang dokter anak. Selain karena memang menyukai anak-anak, ia mengaku terobsesi oleh dokter pribadinya saat kecil. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ia pun mendaftar di Fakultas Kedokteran Australian National University.

”Saya sudah diterima di kedokteran (Fakultas, Red). Tapi setelah itu saya pikir lagi, rasanya saya tidak akan kuat menjalani pendidikan di bidang tersebut,” tuturnya. Setelah berkonsultasi dengan keluarga, Mari kemudian pindah ke Jurusan Science. Namun di jurusan tersebut, ia mengambil kelas ekonomi. ”Di sanalah saya kemudian mulai tertarik mendalami bidang ekonomi, karena pengaruh dosen yang mengajar di kelas tersebut,” ucapnya.

Karena ketertarikan itu, Mari pun memutuskan untuk mendalami bidang ekonomi, hingga akhirnya ia berhasil meraih gelar S3 atau PhD (Doctor of Philosophy) dalam bidang Perdagangan Internasional, Keuangan, dan Ekonomi Moneter dari Universitas California Davis Amerika Serikat pada 1986. Sebelum diangkat menjadi Menteri Perdagangan, Mari dikenal sebagai peneliti dan ekonom dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies). Ia pun juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Lantas bagaimana perasaannya saat pertama kali ditelepon Presiden SBY pada 2004 silam saat dipilih memimpin Kementerian Perdagangan? ”Tentu saja bangga.

Apalagi jauh sebelumnya saya sudah banyak berhubungan dengan orang-orang dan pejabat yang ada di kementerian ini,” tutur Mari. Menjadi seorang menteri, bagi Mari bukanlah sesuatu yang mudah. ”Dulu saat berada di luar pemerintahan dan menjadi pengamat, saya sering mengkritik pemerintahan. Saat dipilih menjadi menteri, ternyata berat, tidak semudah yang dibayangkan,” katanya.

Pertama kali menjadi menteri, Mari sempat mengundang para seniornya, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Saat itulah, Ir Hartarto, mantan Menteri Perindustrian era Orde Baru berkata kepada Mari. ”Kamu dulu yang paling banyak mengkritik pemerintah. Sekarang kamu rasakan sendiri, dan kamu harus bisa menghadapinya,” ujar Mari menirukan seniornya itu. Karena sudah biasa mengkritik, Mari pun hanya tersenyum. ”Bagi saya kritik itu hal biasa. Saya bukan orang yang alergi dengan kritik, asal harus disertai dengan alasan yang jelas. Dan yang terpenting, kritik itu jangan diambil sebagai hal yang personal,” imbuh ibu dari dua putera itu.

Jangan Kalah dengan Kaum Adam

Sebagai wanita asal etnis Tionghoa, Mari pun mengaku tidak kesulitan menyesuaikan diri saat pertama kali menjadi anggota kabinet. Apalagi, kata dia, sudah ada etnis Tionghoa yang menjadi menteri dalam kabinet sebelumnya di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri. ”Sekarang kan nggak kayak dulu lagi. Sejak zaman Gus Dur sudah banyak terjadi perubahan mendasar. Misalnya Imlek sudah jadi hari libur.

Pemakaian huruf China juga sudah diperbolehkan. Apalagi sejak disahkannya UU Kewarganegaraan pada 2006, semuanya berubah menjadi lebih positif,” ujar bungsu dari tiga bersaudara ini. Lalu setelah menjadi Menteri Perdagangan sekitar tujuh tahun, apa target Mari yang belum tercapai? ”Banyak ya. Salah satunya adalah reformasi birokrasi. Saya ingin menumbuhkan kader-kader dan birokrat yang akan mengambil alih kepemimpin di kementerian ini, saat saya sudah tidak menjabat lagi. Salah satunya kami sudah mencetak lebih dari 200 staf yang dikirim untuk mengikuti pendidikan S2,” katanya.

Menjelang peringatan Hari Kartini pada 21 April nanti, Mari pun menyampaikan harapannya bagi seluruh kaum hawa di Indonesia. Menurut dia, saat ini perubahan paradigma sudah terjadi di seluruh dunia, dengan banyaknya muncul tokoh wanita dalam berbagai bidang. Kaum hawa tidak kalah bersaing dengan kaum Adam. Menurut Mari yang harus diutamakan adalah pendidikan. ”Jangan sampai ada anak perempuan yang dikeluarkan dari sekolah. Kuncinya itu. Antara laki-laki dan perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” tandasnya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


kunjungi : lomba blog depok

Pemilik Blog

Menulis untuk belajar membaca,
dan membacalah supaya tahu...

Kalender

May 2011
M T W T F S S
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Statistik Blog

  • 45,679 hits

Arsip

Kategori

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.