Posted by: Dodi Esvandi on: May 9, 2011
Apa jadinya jika puluhan ibu berkumpul? Pasti ramai celotehan dan perbincangan seputar perempuan, keluarga, hingga bergosip. Tapi bagaimana jika perempuan yang menjadi menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II ditambah para Dirut BUMN dan pejabat eselon 1 di seluruh kementerian mengadakan pertemuan? Jawabannya sama saja, ramai.
Suasana seperti itulah yang tampak di kediaman Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Komplek Perumahan Menteri Widya Chandra IV No 23 Jakarta Selatan, kemarin malam (25/4). Mengundang rekan-rekannya sesama menteri perempuan, yakni Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) Linda Amalia Sari, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana, mereka menggelar semacam “arisan pejabat tinggi wanita”.
Tak hanya empat menteri perempuan, “kongkow-kongkow” di antara ibu-ibu pejabat itu juga dihadiri para Dirut BUMN dan pejabat eselon 1 di seluruh kementerian, misalnya Dirut Pertamina Karen Agustiawan, Dirut TVRI Immas Sunarya, Dirut RRI Rosarita Niken Widiastuti, serta Sekjen Kemendagri, Diah Anggraini.
Adalah Mari Elka Pangestu yang awalnya memiliki ide mengumpulkan para pejabat perempuan itu. Ide itu muncul saat Mari ingin melakukan sesuatu yang berbeda memperingati Hari Kartini. Tak dinyana, ide yang disampaikannya kepada Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP-PA), Linda Amalia Sari, bak gayung bersambut. ”Saya antusias saat dapat pesan BBM dari Bu Mari,” kata Linda.
Mari mengatakan, pertemuan non formal itu digelar semata-mata untuk bersilaturahmi dengan seluruh perempuan yang menduduki jabatan eselon I di seluruh kementerian dan lembaga. ”Ini merupakan silaturahmi untuk memperingati Hari Kartini,” ujar Mari. Menurut Mendag, menduduki posisi penting di pemerintahan bagi seorang perempuan, bukanlah perkara sederhana.
Sebab perempuan perlu bekerja ekstra, melebihi usaha laki-laki untuk membuktikan bahwa ia berkompeten berada di pucuk kepemimpinan. ”Masing-masing punya cerita. Sebagai perempuan, kita harus menunjukkan bahwa keberhasilan bukan sekadar posisi. Kita berhasil berada di posisi tinggi karena memang kita memiliki kemampuan. Ini bisa menjadi inspirasi. Inilah pentingnya networking antara pemerintahan dan BUMN,” kata Mari di hadapannya 90 tamunya.
Sementara Meneg PP dan PA, Linda Amalia Sari mengatakan, perempuan di pemerintahan perlu berjejaring dan berbagi pengalaman. Tak sekadar mengenai pekerjaan namun juga seputar kehidupannya sebagai perempuan. ”Pertemuan informal seperti ini lebih cair. Perempuan bisa saling berbagi pengalaman dan informasi tentang apapun. Jika menyangkut pembicaraan serius mengenai pekerjaan bisa ditindaklanjuti kemudian. Namun kegiatan seperti ini bisa membuat perempuan saling menguatkan satu sama lain secara pribadi, juga membantu pekerjaannya,” jelas Linda.
Senada dengan dua rekannya, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih juga menyambut positif ajakan Mari membangun jejaring pimpinan perempuan. Baginya, kegiatan networking seperti ini layak diadakan lebih rutin. ”Setahun sekali atau dua tahun sekali kita perlu berkumpul dalam suasana berbeda, tapi rasanya tidak sebulan sekali,” katanya.
Lalu apakah di antara para ibu menteri ini pernah merasa termarjinalkan atau terkucilkan di kabinet, karena jumlah menteri wanita sangat sedikit di antara menteri laki-laki? ”Oh tidak, kami tidak pernah merasa dikucilkan. Kami juga tidak ingin memisahkan diri dengan menteri yang laki-laki. Menteri laki-laki juga ada kok yang membela hakhak wanita. Nanti kalau ada lagi acara kumpul-kumpul seperti ini, kami akan undang menteri yang laki-laki,” pungkas Linda.