Posted by codoix on September 30, 2008
Gema takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang di seantero alam. Semua bergembira menyambut hari yang fitri. Semua senang menyambut hari kemenangan. Semua berkumpul dengan keluarga masing-masing. Semua memakai baju baru.
Tapi aku di sini justru merasa sendiri. Tanpa keluarga, tanpa teman. Tak ada kegembiraan. Tak ada suka cita. Lalu apa makna Idul Fitri yang sebenarnya.
Alhamdulillah aku masih bisa menjalankan kewajiban berpuasa sebulan penuh, sama seperti tahun lalu. Tapi, lagi-lagi aku harus kembali melewatkan lebaran sendirian, sama seperti tahun kemarin. Jauh dari ibu, jauh dari keluarga. Tak ada baju lebaran, tak ada salam-salaman, tak ada ketupat lebaran, tak ada semuanya.
Semoga tahun depan bisa lebih baik. Semoga tahun depan nggak sendirian lagi. Aku rindu lebaran di rumah. Aku rindu kampung halaman. Aku rindu semuanya.
Posted in Cerita harian | Leave a Comment »
Posted by codoix on September 6, 2008
“Saya akan segera menikah, sehabis lebaran.” Bagaimana perasaan kamu jika kata-kata seperti itu meluncur dari orang yang pernah sangat kamu cintai, walaupun hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Sabtu siang kemarin hanphone Nokia N-Gage warna hitam esayanganku berdering. Di layarnya tertera tulisan ‘MetalliCA yeah calling…”
Awalnya tidak ada perasaan aneh menjawab panggilan dari wanita yang pernah sangat aku idolai bertahun-tahun selama mengecap bangku perguruan tinggi itu. Saat itu, berkali-kali aku mengutarakan perasaan kepadanya, namun berkali-kali juga aku mendapat kata-kata penolakan.
Namun anehnya, sama sekali tidak ada perasaan kesal, marah, benci, atau sakit hati saat dia mengatakan kata penolakan tersebut. Pengecualian mungkin sekitar tahun 2002 lalu, saat aku sedang KKL di Jakarta, dan dia ada kunjungan ke Malaysia (It’s just old stories…)
Usai meninggalkan ‘Kota Bingkuang’ sekitar dua tahun lalu, kami menjalin komunuikasi dan saling memberi kabar. Bahkan tahun lalu aku masih sempat bertemu dengan saat ada kegiatan di Cibubur.
Namun saat kalimat itu meluncur dari mulutnya, seakan ada kilat dan petir yang menyambar. Walalupun perasaan yang ada sekarang tidak seperti ‘zaman muda’ dulu, jujur harus diakui, masih ada sedikit perasaan yang tersisa.
Mendengar kabar seperti itu langsung dari seorang yang pernah kamu gila-gilai bukan pengalaman baru bagi aku. Lebih setahun lalu, aku juga pernah mendengar kalimat seperti itu, bahkan dari orang yang saat itu statusnya masih sebagai belahan hati.
Kendati pernah merasakan perasaan yang lebih menyakitkan, tetap aja kejadian Sabtu siang itu membuat pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun yang lalu. Akhirnya aku hanya berkesimpulan, Tuhan memang Maha Mengatur segalanya. Dan aku masih tetap mencari sosok misterius itu. Apakah aku sudah pernah bertemu orangnya atau belum, hanya Dia yang tahu…..
Posted in Cerita harian | 1 Comment »
Posted by codoix on May 29, 2008
Apa hubungan kenaikan BBM, listrik mati, Upah Minimum Kota alias UMK, serta nimba air? Jelas semuanya berhubungan. Dan itulah topik yang aku angkat untuk berita hari ini.
Alkisah…, seorang teman di kantor ngeluh. Gara-gara listrik mati seharian, sepulang kerja dia terpaksa harus nimba dulu di sumur tetangga. Kenapa listrik mati? Karena pasokan BBM dari pertamina untuk pembangkit PLN terhambat. Makanya terpaksa dilakukan pemadaman bergilir.
Sang teman yang sudah belasan tahun menjadi buruh media bercerita, kenaikan BBM sama sekali tidak diimbangi kenaikan upah atau tunjangan dari kantor. Akibatnya hidup terasa semakin susah.
Jadi wartawan memang banyak suka dukanya. Jika bicara suka…, anda bisa ketemu dan bertiteraksi dengan berbagai orang dari berbagai kalangan. Dukanya? Kita menjadi sangat terasing.
Karl Marx pernah bilang lewat teori alienasinya. Kaum buruh akan merasa terasing dengan lingkungan kerjanya sendiri. Dia mencontohkan, buruh di pabrik sepatu setiap harinya bekerja “membanting tulang” untuk mencipatakan sepatu yang bagus. Namun dia digaji dengan sangat kecil dan sama sekali tidak dapat menikmati dan memakai sepatu yang dibuatnya tersebut.
Begitu juga wartawan. Setiap harinya dia bertemu dengan banyak narasumber. Bertemu realitas sosial, misalnya buruh yang menuntut kenaikan upah. Wartawan tak ubahnya tim advokasi buruh yang tertindas. Namun di satu sisi, wartawan tersebut tidak bisa memperjuangkan dirinya sendiri. Dia hanya bisa pasrah dijadikan robot oleh kantornya. Tenaganya diperas dengan kompensasi upah yang jauh dari kata layak.
Di Indonesia saat ini, masih banyak pekerja media yang menerima upah di bawah UMR/UMK. Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) beberapa waktu lalu pernah merilis mengenai upah layak seorang jurnalis di Jakarta. Minimal, untuk bisa hidup dengan layak, seorang wartawan harus menerima upah Rp4,1 juta. Kenyataannya? Baru dua perusahaan pers yang disinyalir memberikan upah minimal tersebut. Yang lainnya? Hanya tuhan yang tau….
Seorang wartawan dituntut untuk selalu bersikap independen. Namun di satu sisi, perusahaan tidak pernah memperhatikan nasib dan kesejahteraan mereka. Lalu bagaimana wartawan bisa bekerja dengan tenag jika di satu sisi dia harus memikirkan keadaan keluarganya di rumah?
Posted in Cerita harian | Leave a Comment »
Posted by codoix on May 18, 2008
Jam tanganku menunjukkan pukul 01:36 dini hari. Kebetulan besok libur kerja, karena tanggal 20 Mei adalah tanggal merah. Biasa…, kerja jadi wartawan selalu gitu. Liburnya selalu sehari sebelum tanggal merah.
Ini mungkin postingan pertama dalam blog ini. Makanya aku masih bingung mau menulis soal apaan. Tapi mudah-mudahan besok ada ide ada bahan diskusi yang menarik yang akan diposting dalam blog ini. Doakan aja.
Ngomong-ngomong soal blog, sampai sekarang aku nggak ngerti, apakah sih kegunaan media yang satu ini? Apakah blog itu ibaratnya koran, majalah, atau malah seperti buku diari? Mungkin ada yang bisa memberi sedikit pencerahan? Maklumlah…, aku masih termasuk dalam kelompok orang-orang yang gaptek.
So…, demikian dulu postingan perdana ini. Besok disambung lagi yah. Secara gue mau tidur dulu. Udah ngantuk banget soalnya. Ciao….
Posted in Cerita harian | Leave a Comment »