Codoix’s Weblog

Menulislah untuk belajar membaca

Sapriyanto Refa (Ketua IKM Kota Depok)

Posted by codoix on August 3, 2008

Depok merupakan daerah yang memiliki penduduk multi etnis. Hampir semua suku bangsa yang ada di Indonesia menjadi warga kota ini, mulai dari Orang Betawi, Sunda, Jawa, Minang, Batak, Maluku, hingga warga asal Papua. Semuanya dengan mudah ditemukan di Depok.

Orang Minang (bukan orang Padang) merupakan salah satu etnis terbesar yang terdapat di Depok. Mereka selama ini banyak bernaung dalam wadah Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kota Depok. Menurut perkiraan, jumlah Orang Minang di Depok mencapai sekitar 250.000 orang.

Lalu bagaimana kontribusi warga asal Sumatera Barat ini dalam pembangunan Depok yang saat ini berusia 9 tahun, dan sebaliknya apa saja yang sudah dilakukan oleh Pemkot Depok terhadap kelompok-kelompok etnis seperti IKM ini?

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan berbicang dengan Ketua IKM Kota Depok, Sapriyanto Refa. Dalam kesempatan itu Sapriyanto menceritakan sejarah berdirinya IKM, hingga kiprah yang sudah dilakukan organisasi tersebut hingga sekarang.

“IKM di Depok sudah ada sejak tahun 1978, saat Depok maish berstatus sebagai kecamatan,” ujar Sapriyanto memulai ceritanya. Menurut pria berkumis itu, berdirinya IKM seiring dengan pembangunan Perumnas di Depok I, Depok II, Depok Timur, serta Depok Utara.

“Hingga tahun 1990, cukup banyak kegiatan yang dilakukan oleh IKM dalam kontribusinya membangun Kota Depok,” ujarnya melanjutkan cerita.

Namun sejak 1990 hingga 2004, katanya, IKM mulai mengalami kevakuman. Hal ini disebabkan karena banyak pengurus IKM yang lama berpindah tugas, meninggal dunia, atau mengundurkan diri karena sudah tua. “IKM dulunya kan didirikan oleh generasi tua,” jelasnya.

Pada 2006 timbul kembali keinginan untuk membangun IKM dari generasi muda Minang yang ada di Depok.

“Ini juga sejalan dengan perkembangan Depok yang dulunya hanya kecamatn, lalu berubah menjadi kotif, hinga sekarang menjadi kota. Otomotis jumlah etnis Minang juga bertambah karena wilayahnya juga semakin luas,” ujar Pria kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat itu.

Akhirnya pada tahun 2006 itu digelar Musyawarah Besar pertama IKM dan memilih Sapriyanto Refa sebagai Ketua Umum IKM.

“Jadi IKM yang ada saat ini bukan IKM yang baru, melainkan melanjutkan IKM yang dulu berdiri pada 1978,” katanya.

Tujuan didirikannya IKM, kata Sapriyanto, adalah untuk menghimpun dan sarana komunikasi bagi warga Minang yang ada di Depok, yang tujuan akhirnya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Alhamdulillah hingga saat ini misi tersebut belum berubah. Jadi belum ada keinginan mengubah organisasi ini untuk berkecimpung di ranah politik misalnya,” tandasnya.

Sapriyanto sendiri mengaku mulai berdiam di Depok sejak 1978, ikut dengan pamannya.

“Selepas SMA saya melanjtkan kuliah di Lampung. Setelah wisuda, saya kembali ke Depok hingga sekarang,” ujar pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai pengacara itu.

Karena sudah bermukim di Depok selama 30 tahun, Sapriyanto mengaku cukup memahami perkembangan Depok dari dulu hingga sekarang.

“Depok tempo dulu dengan sekarang jelas berbeda. Dulu kota ini masih rapi dan bersih, berbeda dengan situasi sekarang yang sudah diliputi macet di mana-mana,” ujarnya.

Dari segi infrastruktur, kata Sapriyanto, perkembangannya tidak seebanding dengan perkembangan kota secara keseluruhan.

“Dulu walaupun jalannya kecil, tapi kondisinya baik. Tapi sekarang jalan rusak dengan mudah ditemukan di mana saja,” katanya lagi.

Dengan jumlah warga Minang yang cukup banyak, kata Sapriyanto, sebenarnya banyak kontribusi yang sudah diberikan untuk Kota Depok, terutama dari segi ekonomi, karena banyaknya pelaku ekonomi yang merupakan orang Minang.

Kendati warga Minang di Depok cukup banyak, namun belum semuanya yang bisa dirangkul oleh IKM. Untuk bisa menghimpun mereka dalam wadah IKM, Sapriyanto mengaku terus melakukan konsolidasi dan penguatan jaringan di tingkat bawah.

“Saat ini yang diperlukan adalah pemahaman kepada warga Minang bahwa organisasi ini dibutuhkan untuk membantu masyarakat minang yang diperantauan. Jika mereka sudah tertarik dengan IKM, otomatis nantinya mereka akan bergabung dengan sendirinya,” tuturnya.

Selain IKM, saat ini mulai bermunculan kelompok atau paguyuban masyarakat yang berbasis etnis, seperti paguyuban masyarakat Jawa, Batak, atau paguyuban lainnya.

Sapriyanto melihat hal itu fenomena itu merupakan hal yang sangat positif untuk perkembangan Kota Depok.

“Tujuan awal didirikan paguyuban kelompok masyarakat ini tentu tidak jauh berbeda, yaitu untuk menjalin silaturrahmi. Sepanjang mereka tidak menutup diri dengan masyarakat sekitarnya, saya pikir ini adalah hal positif,” katanya.

Perbedaan etnis, kata Sapriyanto, tetap dibutuhkan untuk membangun Kota Depok ke arah yang lebih positif. Seperti pepatah Minang Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

“Artinya kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, di manapun kita berada,” ujarnya.

Sapriyanto juga menilai, seharusnya Pemkot Depok bisa melakukan pembinaan dan menjadikan paguyuban atau kelompok etnis ini sebagai mitra.

“Kelompok-kelompok ini bisa dimanfaatkan untuk membantu Pemkot dalam menyosialisasikan program-programnya. Namun hingga saat ini tampaknya Pemkot Depok belum melakukan hal tersebut,” kata Sapriyanto.

Biodata :

Nama : Sapriyanto Refa

Lahir : Bukittinggi, 3 November 1962

Negeri Asal : Painan, Sumatera Barat

Orang Tua : Rospin gelar Panduko Sotan (Ayah)

Fatimah (Ibu)

Istri : Rita Nevosti

Anak : Adytia Andreyta Refa

Elza Andreyta Refa

Pekerjaan : Advokat / Konsultan Advokat

Riwayat Pendidikan :

- SD Tegaloji 2 Banyuwangi (Tamat 1974)

- SMP 42 Jakarta (Tamat 1977)

- SMA 40 Jakarta (Tamat 1981)

- Fakultas Hukum Universitas Lampung (Tamat 1986)

- Magister Hukum Universitas Jayabaya (Tamat 2005)

Pengalaman Organisasi :

- Ketua II Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unila (1983 –1986)

- Anggota Badan Perwakilan Mahasiswa Fak. Hukum Unila (1983 – 1986)

- Pengurus HMI Cabang Bandar Lampung (1983 – 1986)

- Sekum Imami Bandar Lampung (1984 – 1986)

- Ketua Ikadin Cabang Jakarta Selatan (2003 – 2010)

- Wakil Ketua Peradi Cabang Jakarta Selatan (2008 – 2013)

- Ketua IKM Kota Depok (2006 – 2011)

Posted in Sosok | Leave a Comment »

BBM, listrik mati, UMK, dan nimba air

Posted by codoix on May 29, 2008

Apa hubungan kenaikan BBM, listrik mati, Upah Minimum Kota alias UMK, serta nimba air? Jelas semuanya berhubungan. Dan itulah topik yang aku angkat untuk berita hari ini.

Alkisah…, seorang teman di kantor ngeluh. Gara-gara listrik mati seharian, sepulang kerja dia terpaksa harus nimba dulu di sumur tetangga. Kenapa listrik mati? Karena pasokan BBM dari pertamina untuk pembangkit PLN terhambat. Makanya terpaksa dilakukan pemadaman bergilir.

Sang teman yang sudah belasan tahun menjadi buruh media bercerita, kenaikan BBM sama sekali tidak diimbangi kenaikan upah atau tunjangan dari kantor. Akibatnya hidup terasa semakin susah.

Jadi wartawan memang banyak suka dukanya. Jika bicara suka…, anda bisa ketemu dan bertiteraksi dengan berbagai orang dari berbagai kalangan. Dukanya? Kita menjadi sangat terasing.

Karl Marx pernah bilang lewat teori alienasinya. Kaum buruh akan merasa terasing dengan lingkungan kerjanya sendiri. Dia mencontohkan, buruh di pabrik sepatu setiap harinya bekerja “membanting tulang” untuk mencipatakan sepatu yang bagus. Namun dia digaji dengan sangat kecil dan sama sekali tidak dapat menikmati dan memakai sepatu yang dibuatnya tersebut.

Begitu juga wartawan. Setiap harinya dia bertemu dengan banyak narasumber. Bertemu realitas sosial, misalnya buruh yang menuntut kenaikan upah. Wartawan tak ubahnya tim advokasi buruh yang tertindas. Namun di satu sisi, wartawan tersebut tidak bisa memperjuangkan dirinya sendiri. Dia hanya bisa pasrah dijadikan robot oleh kantornya. Tenaganya diperas dengan kompensasi upah yang jauh dari kata layak.

Di Indonesia saat ini, masih banyak pekerja media yang menerima upah di bawah UMR/UMK. Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) beberapa waktu lalu pernah merilis mengenai upah layak seorang jurnalis di Jakarta. Minimal, untuk bisa hidup dengan layak, seorang wartawan harus menerima upah Rp4,1 juta. Kenyataannya? Baru dua perusahaan pers yang disinyalir memberikan upah minimal tersebut. Yang lainnya? Hanya tuhan yang tau….

Seorang wartawan dituntut untuk selalu bersikap independen. Namun di satu sisi, perusahaan tidak pernah memperhatikan nasib dan kesejahteraan mereka. Lalu bagaimana wartawan bisa bekerja dengan tenag jika di satu sisi dia harus memikirkan keadaan keluarganya di rumah?

Posted in Cerita harian | Leave a Comment »

19 Mei 2008

Posted by codoix on May 18, 2008

Jam tanganku menunjukkan pukul 01:36 dini hari. Kebetulan besok libur kerja, karena tanggal 20 Mei adalah tanggal merah. Biasa…, kerja jadi wartawan selalu gitu. Liburnya selalu sehari sebelum tanggal merah.

Ini mungkin postingan pertama dalam blog ini. Makanya aku masih bingung mau menulis soal apaan. Tapi mudah-mudahan besok ada ide ada bahan diskusi yang menarik yang akan diposting dalam blog ini. Doakan aja.

Ngomong-ngomong soal blog, sampai sekarang aku nggak ngerti, apakah sih kegunaan media yang satu ini? Apakah blog itu ibaratnya koran, majalah, atau malah seperti buku diari? Mungkin ada yang bisa memberi sedikit pencerahan? Maklumlah…, aku masih termasuk dalam kelompok orang-orang yang gaptek.

So…, demikian dulu postingan perdana ini. Besok disambung lagi yah. Secara gue mau tidur dulu. Udah ngantuk banget soalnya. Ciao….

Posted in Cerita harian | Leave a Comment »