Depok merupakan daerah yang memiliki penduduk multi etnis. Hampir semua suku bangsa yang ada di Indonesia menjadi warga kota ini, mulai dari Orang Betawi, Sunda, Jawa, Minang, Batak, Maluku, hingga warga asal Papua. Semuanya dengan mudah ditemukan di Depok.
Orang Minang (bukan orang Padang) merupakan salah satu etnis terbesar yang terdapat di Depok. Mereka selama ini banyak bernaung dalam wadah Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kota Depok. Menurut perkiraan, jumlah Orang Minang di Depok mencapai sekitar 250.000 orang.
Lalu bagaimana kontribusi warga asal Sumatera Barat ini dalam pembangunan Depok yang saat ini berusia 9 tahun, dan sebaliknya apa saja yang sudah dilakukan oleh Pemkot Depok terhadap kelompok-kelompok etnis seperti IKM ini?
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan berbicang dengan Ketua IKM Kota Depok, Sapriyanto Refa. Dalam kesempatan itu Sapriyanto menceritakan sejarah berdirinya IKM, hingga kiprah yang sudah dilakukan organisasi tersebut hingga sekarang.
“IKM di Depok sudah ada sejak tahun 1978, saat Depok maish berstatus sebagai kecamatan,” ujar Sapriyanto memulai ceritanya. Menurut pria berkumis itu, berdirinya IKM seiring dengan pembangunan Perumnas di Depok I, Depok II, Depok Timur, serta Depok Utara.
“Hingga tahun 1990, cukup banyak kegiatan yang dilakukan oleh IKM dalam kontribusinya membangun Kota Depok,” ujarnya melanjutkan cerita.
Namun sejak 1990 hingga 2004, katanya, IKM mulai mengalami kevakuman. Hal ini disebabkan karena banyak pengurus IKM yang lama berpindah tugas, meninggal dunia, atau mengundurkan diri karena sudah tua. “IKM dulunya kan didirikan oleh generasi tua,” jelasnya.
Pada 2006 timbul kembali keinginan untuk membangun IKM dari generasi muda Minang yang ada di Depok.
“Ini juga sejalan dengan perkembangan Depok yang dulunya hanya kecamatn, lalu berubah menjadi kotif, hinga sekarang menjadi kota. Otomotis jumlah etnis Minang juga bertambah karena wilayahnya juga semakin luas,” ujar Pria kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat itu.
Akhirnya pada tahun 2006 itu digelar Musyawarah Besar pertama IKM dan memilih Sapriyanto Refa sebagai Ketua Umum IKM.
“Jadi IKM yang ada saat ini bukan IKM yang baru, melainkan melanjutkan IKM yang dulu berdiri pada 1978,” katanya.
Tujuan didirikannya IKM, kata Sapriyanto, adalah untuk menghimpun dan sarana komunikasi bagi warga Minang yang ada di Depok, yang tujuan akhirnya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
“Alhamdulillah hingga saat ini misi tersebut belum berubah. Jadi belum ada keinginan mengubah organisasi ini untuk berkecimpung di ranah politik misalnya,” tandasnya.
Sapriyanto sendiri mengaku mulai berdiam di Depok sejak 1978, ikut dengan pamannya.
“Selepas SMA saya melanjtkan kuliah di Lampung. Setelah wisuda, saya kembali ke Depok hingga sekarang,” ujar pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai pengacara itu.
Karena sudah bermukim di Depok selama 30 tahun, Sapriyanto mengaku cukup memahami perkembangan Depok dari dulu hingga sekarang.
“Depok tempo dulu dengan sekarang jelas berbeda. Dulu kota ini masih rapi dan bersih, berbeda dengan situasi sekarang yang sudah diliputi macet di mana-mana,” ujarnya.
Dari segi infrastruktur, kata Sapriyanto, perkembangannya tidak seebanding dengan perkembangan kota secara keseluruhan.
“Dulu walaupun jalannya kecil, tapi kondisinya baik. Tapi sekarang jalan rusak dengan mudah ditemukan di mana saja,” katanya lagi.
Dengan jumlah warga Minang yang cukup banyak, kata Sapriyanto, sebenarnya banyak kontribusi yang sudah diberikan untuk Kota Depok, terutama dari segi ekonomi, karena banyaknya pelaku ekonomi yang merupakan orang Minang.
Kendati warga Minang di Depok cukup banyak, namun belum semuanya yang bisa dirangkul oleh IKM. Untuk bisa menghimpun mereka dalam wadah IKM, Sapriyanto mengaku terus melakukan konsolidasi dan penguatan jaringan di tingkat bawah.
“Saat ini yang diperlukan adalah pemahaman kepada warga Minang bahwa organisasi ini dibutuhkan untuk membantu masyarakat minang yang diperantauan. Jika mereka sudah tertarik dengan IKM, otomatis nantinya mereka akan bergabung dengan sendirinya,” tuturnya.
Selain IKM, saat ini mulai bermunculan kelompok atau paguyuban masyarakat yang berbasis etnis, seperti paguyuban masyarakat Jawa, Batak, atau paguyuban lainnya.
Sapriyanto melihat hal itu fenomena itu merupakan hal yang sangat positif untuk perkembangan Kota Depok.
“Tujuan awal didirikan paguyuban kelompok masyarakat ini tentu tidak jauh berbeda, yaitu untuk menjalin silaturrahmi. Sepanjang mereka tidak menutup diri dengan masyarakat sekitarnya, saya pikir ini adalah hal positif,” katanya.
Perbedaan etnis, kata Sapriyanto, tetap dibutuhkan untuk membangun Kota Depok ke arah yang lebih positif. Seperti pepatah Minang Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
“Artinya kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, di manapun kita berada,” ujarnya.
Sapriyanto juga menilai, seharusnya Pemkot Depok bisa melakukan pembinaan dan menjadikan paguyuban atau kelompok etnis ini sebagai mitra.
“Kelompok-kelompok ini bisa dimanfaatkan untuk membantu Pemkot dalam menyosialisasikan program-programnya. Namun hingga saat ini tampaknya Pemkot Depok belum melakukan hal tersebut,” kata Sapriyanto.
Biodata :
Nama : Sapriyanto Refa
Lahir : Bukittinggi, 3 November 1962
Negeri Asal : Painan, Sumatera Barat
Orang Tua : Rospin gelar Panduko Sotan (Ayah)
Fatimah (Ibu)
Istri : Rita Nevosti
Anak : Adytia Andreyta Refa
Elza Andreyta Refa
Pekerjaan : Advokat / Konsultan Advokat
Riwayat Pendidikan :
- SD Tegaloji 2 Banyuwangi (Tamat 1974)
- SMP 42 Jakarta (Tamat 1977)
- SMA 40 Jakarta (Tamat 1981)
- Fakultas Hukum Universitas Lampung (Tamat 1986)
- Magister Hukum Universitas Jayabaya (Tamat 2005)
Pengalaman Organisasi :
- Ketua II Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unila (1983 –1986)
- Anggota Badan Perwakilan Mahasiswa Fak. Hukum Unila (1983 – 1986)
- Pengurus HMI Cabang Bandar Lampung (1983 – 1986)
- Sekum Imami Bandar Lampung (1984 – 1986)
- Ketua Ikadin Cabang Jakarta Selatan (2003 – 2010)
- Wakil Ketua Peradi Cabang Jakarta Selatan (2008 – 2013)
- Ketua IKM Kota Depok (2006 – 2011)